بسم الله الرحمن الرحيم
Perintah bersyukur atas keselamatan dari orang-orang zalim ditegaskan dalam firman Allah:
فَإِذَا اسْتَوَيْتَ أَنتَ وَمَن مَّعَكَ عَلَى الْفُلْكِ فَقُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي نَجَّانَا مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ
“Maka apabila engkau dan orang-orang yang bersamamu telah berada di atas bahtera itu, katakanlah: ‘Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan kami dari kaum yang zalim.’” (QS. Al-Mu’minun: 28)
Para ulama tafsir, termasuk Ibnu Asyur dan Al-Alusi, menjelaskan bahwa ungkapan syukur dalam ayat ini mencakup pembebasan total dari dua aspek keburukan orang zalim [Ruh al-Ma’ani 9/230)
1. Diselamatkan dari Gangguan dan Kejahatan Orang Zalim (Keselamatan Fisik & Penindasan)
Bentuk keselamatan pertama adalah terbebasnya kaum mukmin dari teror, ancaman, fitnah kekuasaan, dan penganiayaan fisik yang dilancarkan oleh kaum zalim [Fath al-Qadir 3/570].
Doa para pengikut Nabi Musa yang memohon perlindungan dari penindasan penguasa zalim:
فَقَالُوا عَلَى اللَّهِ تَوَكَّلْنَا رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِّلْقَوْمِ الظَّالِمِينَ * وَنَجِّنَا بِرَحْمَتِكَ مِنَ الْقَوْمِ الْكَافِرِين
“Lalu mereka berkata: ‘Kepada Allah-lah kami bertawakal. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan kami (sasaran) fitnah bagi kaum yang zalim, dan selamatkanlah kami dengan rahmat-Mu dari kaum yang kafir.’” (QS. Yunus: 85–86)
Doa Asiyah (istri Fir’aun):
اِذْ قَالَتْ رَبِّ ابْنِ لِيْ عِنْدَكَ بَيْتًا فِى الْجَنَّةِ وَنَجِّنِيْ مِنْ فِرْعَوْنَ وَعَمَلِهٖ وَنَجِّنِيْ مِنَ الْقَوْمِ الظّٰلِمِيْنَ
Ketika dia berkata : “Ya Tuhanku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga, dan selamatkanlah aku dari Fir‘aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zalim.” (QS. At-Tahrim: 11)
Imam Asy-Syaukani menjelaskan bahwa makna diselamatkan dalam ayat ini adalah Allah memutus hubungan dan menyingkirkan kejahatan mereka sehingga tidak lagi mampu menyakiti kaum beriman [Fath al-Qadir 3/570].
2. Diselamatkan dari Hidup Bersama Orang Zalim (Keselamatan Batin & Agama)
Bentuk keselamatan kedua yang tidak kalah besarnya adalah keterpisahan tempat tinggal dan pergaulan dari orang-orang zalim [Ruh al-Ma’ani, 9/230]
Hidup berdampingan dengan pelaku kezaliman dan kekufuran membawa mudarat batin:
- Menyaksikan maksiat menyiksa hati nurani orang beriman. Hati yang bertakwa merasa tertekan dan tersakiti saat melihat syariat Allah dilanggar terang-terangan tanpa daya untuk mengubahnya.
- Kekhawatiran terbiasa (ta’alluf al-munkar). Kedekatan dengan kebatilan berisiko mengikis kebencian hati terhadap dosa.
- Kekhawatiran terkena imbas azab. Tempat yang dipenuhi kezaliman rentan ditimpa murka Allah secara merata.
Larangan untuk tidak duduk bersama kaum yang mendustakan kebenaran:
وَإِمَّا يُنسِيَنَّكَ الشَّيْطَانُ فَلَا تَقْعُدْ بَعْدَ الذِّكْرَىٰ مَعَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ
“Dan jika setan menjadikan engkau lupa, maka janganlah engkau duduk kembali setelah ingat bersama kaum yang zalim itu.” (QS. Al-An’am: 68)
Peringatan keras agar tidak condong kepada mereka:
وَلَا تَرْكَنُوا إِلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا فَتَمَسَّكُمُ النَّارُ
“Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim, yang menyebabkan kamu disentuh api neraka.” (QS. Hud: 113)
Rasulullah ﷺ menggambarkan bahaya bergaul dengan orang-orang yang berbuat buruk:
«وَمَثَلُ جَلِيسِ السُّوءِ كَمَثَلِ صَاحِبِ الْكِيرِ إِنْ لَمْ يُصِبْكَ مِنْ سَوَادِهِ، أَصَابَكَ مِنْ دُخَانِهِ»
“Dan permisalan teman duduk yang buruk seperti peniup api tukang besi; jika engkau tidak terkena percikan apinya (arangnya), engkau tetap akan terkena asapnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Beliau ﷺ juga menekankan pentingnya memisahkan diri dari komunitas yang tidak menegakkan agama:
«أَنَا بَرِيءٌ مِنْ كُلِّ مُسْلِمٍ يُقِيمُ بَيْنَ أَظْهُرِ الْمُشْرِكِينَ»
“Aku berlepas diri dari setiap muslim yang menetap di tengah-tengah orang musyrik.” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi)
Khalifah Umar bin Abdul Aziz pernah menangkap sekelompok orang yang sedang meminum khamar. Ketika dilaporkan bahwa salah satu dari mereka sedang berpuasa dan hanya ikut duduk, Umar tetap memerintahkan untuk menghukumnya, lalu membacakan firman Allah: “Sesungguhnya kamu jika demikian (duduk bersama mereka saat mereka memperolok ayat Allah) tentulah sama dengan mereka.” (QS. An-Nisa: 140) [Fatawa Ibn Taymiyya 2/97].
Said bin al-Musayyib berkata: “Janganlah kalian memandang para penolong orang zalim kecuali dengan pengingkaran di dalam hati kalian, agar amal-amal saleh kalian tidak gugur.” [al-Kabair 1/111]
Sufyan ats-Tsauri menegaskan: “Mendekat dan melihat kepada pelaku kezaliman dapat mengeruhkan serta mengeraskan hati.” [Min Alam al-Salaf 17/10]
Tadzkiroh
Ungkapan “Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan kami dari kaum yang zalim” merupakan bentuk kesyukuran agung, karena keterbebasannya tidak hanya mencakup keselamatan raga dari kejahatan musuh, melainkan juga keselamatan kesucian jiwa dari racun kemungkaran yang merusak agama.
وصلى الله على نبينا محمد والحمد لله رب العالمين
Ditulis oleh : Yahya Firmansyah, M.Pd. (Pengasuh MDQ)
MDQ (MAKTABAH DAAR AL-QOLAM) Markaz Kajian Quran dan Hadits