Official Website al-Ustadz Yahya Firmansyah, M.Pd.
Breaking News

Malam 27 Ramadhan

Malam ke-27 adalah malam yang paling diharapkan sebagai Lailatul Qadar

١- عَنْ قَنَانٍ قَالَ: سَأَلْتُ زِرًّا عَنْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ، فَقَالَ: كَانَ عُمَرُ، وَحُذَيْفَةُ، وَنَاسٌ مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ لَا يَشُكُّونَ أَنَّهَا لَيْلَةُ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ، تَبْقَى ثَلَاثٌ.
[إِسْنَادُهُ حَسَنٌ، ابْنُ أَبِي شَيْبَة ٨٧٥٨]

1. Dari Qanān, ia berkata: Aku bertanya kepada Zirr tentang Lailatul Qadar. Ia menjawab:
“Dahulu Umar, Hudzaifah, dan beberapa sahabat Rasulullah ﷺ tidak meragukan bahwa malam itu adalah malam ke-27, ketika tersisa tiga malam (dari sepuluh malam terakhir).”
(Sanadnya hasan – Ibnu Abi Syaibah no. 8758)

٢- عَنْ زِرِّ بْنِ حُبَيْشٍ قَالَ: سَأَلْتُ أُبَيَّ بْنَ كَعْبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فَقُلْتُ: إِنَّ أَخَاكَ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ: مَنْ يَقُمِ الْحَوْلَ يُصِبْ لَيْلَةَ الْقَدْرِ. فَقَالَ: رَحِمَهُ اللَّهُ، أَرَادَ أَنْ لَا يَتَّكِلَ النَّاسُ، أَمَا إِنَّهُ قَدْ عَلِمَ أَنَّهَا فِي رَمَضَانَ، وَأَنَّهَا فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ، وَأَنَّهَا لَيْلَةُ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ، ثُمَّ حَلَفَ لَا يَسْتَثْنِي أَنَّهَا لَيْلَةُ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ. فَقُلْتُ: بِأَيِّ شَيْءٍ تَقُولُ ذَلِكَ يَا أَبَا الْمُنْذِرِ؟ قَالَ أُبَيُّ بْنُ كَعْبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: بِالْعَلَامَةِ الَّتِي أَخْبَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ ﷺ أَنَّهَا تَطْلُعُ يَوْمَئِذٍ لَا شُعَاعَ لَهَا.
[مُسْلِم ٧٦٢]

2. Dari Zirr bin Hubaisy, ia berkata:
Aku bertanya kepada Ubay bin Ka‘ab radhiyallahu ‘anhu:
“Sesungguhnya saudaramu Abdullah bin Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu berkata: ‘Siapa yang menghidupkan ibadah sepanjang tahun, ia akan mendapatkan Lailatul Qadar.’”

Ubay berkata:
“Semoga Allah merahmatinya. Ia mengatakan itu agar manusia tidak hanya bergantung pada satu malam saja. Padahal ia sendiri mengetahui bahwa Lailatul Qadar berada di bulan Ramadan, pada sepuluh malam terakhir, dan bahwa malam itu adalah malam ke-27.”

Kemudian Ubay bersumpah tanpa pengecualian bahwa malam itu adalah malam ke-27.

Aku berkata:
“Dengan dasar apa engkau mengatakan demikian, wahai Abu Mundzir?”

Ubay menjawab:
“Dengan tanda yang telah diberitahukan oleh Rasulullah ﷺ kepada kami, yaitu matahari terbit pada pagi harinya tanpa sinar yang menyilaukan.”
(HR. Muslim no. 762)


 

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah رحمه الله berkata:

“Lailatul Qadar lebih sering terjadi pada tujuh malam terakhir Ramadan, dan paling sering terjadi pada malam ke-27, sebagaimana dahulu Ubay bin Ka‘ab bersumpah bahwa itu adalah malam ke-27.”
(Majmu‘ al-Fatawa 25/284)


Malam ini memang yang paling diharapkan sebagai Lailatul Qadar. Namun banyak ulama juga menjelaskan bahwa Lailatul Qadar berpindah-pindah pada malam-malam ganjil di sepuluh malam terakhir, karena hikmah yang Allah kehendaki. Dia melakukan apa yang Dia kehendaki; tidak ada yang dapat menolak keputusan-Nya dan tidak ada yang dapat mengubah hukum-Nya.

Kita memohon kepada Allah agar menutup bulan yang mulia ini untuk kita dengan keridaan-Nya, serta menerima dari kita dan dari kalian seluruh amal saleh.

Lihat Juga

Wa Maa Adrooka Maa Lailatul Qadr

Syaikh Dr. Ali Muhammad Ash-Shallabi menulis sebuah artikel berjudul: “Malam Lailatul Qadar, dan tahukah engkau …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *