Official Website al-Ustadz Yahya Firmansyah, M.Pd.
Breaking News

Keserakahan Positif Vs Keserakahan Negatif

بسم الله الرحمن الرحيم

Dua Bentuk Keserakahan

Dalam Riwayat riwayat marfu’ dari sahabat Abdullah bin Mas’ud, Anas bin Malik, dan Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhum, Rasulullah sholllallohu ‘alaihi wa Sallam bersabda :

مَنْهُومَانِ لَا يَشْبَعَانِ: طَالِبُ عِلْمٍ، وَطَالِبُ دُنْيَا

Dalam riwayat Al-Baihaqi dan lainnya dengan kelengkapan penjelasan sahabat Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu:

مَنْهُومَانِ لَا يَشْبَعَانِ: طَالِبُ الْعِلْمِ وَطَالِبُ الدُّنْيَا، وَلَا يَسْتَوِيَانِ؛ أَمَّا صَاحِبُ الْعِلْمِ فَيَزْدَادُ مِنْ رِضَا الرَّحْمَنِ، وَأَمَّا صَاحِبُ الدُّنْيَا فَيَتَمَادَى فِي الطُّغْيَانِ

“Ada dua golongan orang yang rakus dan tidak pernah merasa kenyang: penuntut ilmu dan pemburu dunia. Keduanya tidaklah sama; adapun penuntut ilmu, ia semakin bertambah dalam meraih ridha Ar-Rahman (Allah), sedangkan pemburu dunia, ia semakin larut dalam melampaui batas (kesombongan).”


Judul Bab (Tarjamah al-Bab) dan Maknanya

Para imam dan pensyarah hadits meletakkan riwayat ini dan yang semakna dengannya pada dua fokus pembahasan utama:

Bab Keutamaan Menuntut Ilmu dan Tingginya Tekad dalam Mencari Ilmu (Kitāb al-‘Ilm: Bāb Fadhl Thalab al-‘Ilm wa ash-Shirsh ‘Alaihi) (al-Maqasid al-Hasana 1/490)
Judul ini bermakna penetapan kemuliaan ilmu syar’i serta dorongan bagi seorang muslim untuk senantiasa merasa haus akan faedah ilmu dan tidak merasa puas dengan capaian yang sedikit.

Riwayatimi menetapkan bahwa sifat tidak pernah kenyang (‘adamus syaba’) dalam konteks ilmu adalah sifat terpuji dan bagian dari kelaziman keimanan seorang penuntut ilmu sejati. Semakin banyak ia belajar, semakin ia menyadari keterbatasan dirinya dan semakin terdorong untuk terus menambah bekal akhiratnya. (Miftah Dar al-Saada 1/74)

Bab Celaan terhadap Ambisi Berlebih Terhadap Dunia (Kitāb ar-Riqāq / az-Zuhd: Bāb at-Tahdzīr min al-Hirsh ‘alā ad-Dunyā) (Sharh al-Targhib wa al-Tarhib 4/46)
Judul ini bermakna peringatan akan bahaya kerakusan materi (harta dan kedudukan duniawi) yang tidak berujung dan dapat membutakan hati manusia.

Hal ini memberikan perbandingan kontras (muqabalah) bahwa kerakusan terhadap dunia adalah penyakit jiwa yang membawa kepada ketamakan tanpa batas dan menjerumuskan pada kesombongan (thughyān) (Adab al-Dunya wa al-Din 1/75)


Makna Hadits Per Kalimat (Syarh al-Alfazh)

  • «مَنْهُومَانِ» (Manhūmān – Dua orang yang sangat rakus/berhasrat tinggi):
    Bentuk tatsniyah (ganda) dari kata manhūm (مَنْهُوم). Secara bahasa, an-nahmah (النَّهْمَة) adalah puncak ambisi, hasrat yang amat besar, atau kerakusan yang berlebihan pada sesuatu. Disebutkan oleh para pensyarah, makna asalnya sering dipakai untuk kerakusan makan saat lapar, lalu digunakan sebagai kiasan (isti’arah) bagi ketamakan yang tiada hentinya. (Sharh al-Zurqani 5/383)
  • «لَا يَشْبَعَانِ» (Lā yasyba’ān – Keduanya tidak pernah kenyang / tidak pernah puas):
    Keduanya tidak akan pernah berhenti mengejar dan tidak pernah merasa cukup dengan apa yang sudah diperolehnya.(Sharh al-Zurqani 5/383)
  • «طَالِبُ عِلْمٍ» (Thālibu ‘ilmin – Penuntut ilmu):
    Orang yang menekuni ilmu syar’i karena mengharap wajah Allah [8][9]. Sebagaimana dijelaskan oleh Imam Al-Mawardi dan para pensyarah, ilmu membuka pintu-pintu pemahaman lain, sehingga setiap kali seseorang meraih suatu cabang ilmu, ia mendapati betapa luas ilmu yang belum diketahuinya, lalu bertambah manis dan giat ia mencarinya. Hal ini sejalan dengan firman Allah Ta’ala: “Dan katakanlah: ‘Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.’” (QS. Thaha: 114). (Sharh al-Zurqani 5/383)
  • «وَطَالِبُ دُنْيَا» (Wa thālibu dunyā – Dan pemburu dunia):
    Orang yang mencurahkan seluruh ambisinya untuk menumpuk harta, kemewahan, dan kedudukan materi. Semakin banyak dunia yang ia dapatkan, semakin terbuka pintu syahwat dan kekhawatiran jatuh miskin, sehingga ia tidak pernah berhenti memburunya sampai maut menjemput. (Sharh al-Targhib wa al-Tarhib 4/46)
  • «وَلَا يَسْتَوِيَانِ: أَمَّا صَاحِبُ الْعِلْمِ فَيَزْدَادُ مِنْ رِضَا الرَّحْمَنِ…»:
    Penegasan dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu bahwa meskipun keduanya sama-sama memiliki sifat tidak pernah kenyang, tempat kembali dan konsekuensi keduanya bertolak belakang:

    1. Penuntut ilmu bertambah ketaatan dan rasa takutnya kepada Allah, sebagaimana firman-Nya:
      ﴿إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ﴾
      “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.” (QS. Fathir: 28).
    2. Pemburu dunia bertambah lalai dan melampaui batas karena merasa cukup dengan hartanya, sebagaimana firman-Nya:
      ﴿كَلَّا إِنَّ الْإِنْسَانَ لَيَطْغَىٰ أَنْ رَآهُ اسْتَغْنَىٰ﴾
      “Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup.” (QS. Al-‘Alaq: 6-7). (Sharh al-Zurqani 5/383)

Faidah dan Petunjuk Hidup (Fawā’id wa Irsyādāt)

  1. Ketamakan yang Terpuji vs Ketamakan yang Tercela.
    Sifat tamak pada hakikatnya tercela, kecuali dalam urusan ilmu syar’i dan amal kebaikan akhirat. Ketamakan dalam menuntut ilmu adalah mahmudah (terpuji) dan berpahala di sisi Allah. (Miftah Dar al-Saada 1/74)
  2. Karakteristik Penuntut Ilmu Sejati.
    Tidak ada istilah “lulus dan selesai” dalam menuntut ilmu syar’i. Sebagaimana ungkapan para ulama terdahulu, belajar itu berlangsung dari buaian hingga liang lahad (ma’al mahbarah ilal maqbarah). (Miftah Dar al-Saada 1/74)
  3. Ilmu Menumbuhkan Ketawadukan.
    Setiap kali ilmu bertambah, seorang hamba semakin menyadari kebodohan dan keterbatasan dirinya, sehingga ia semakin tawaduk di hadapan Allah dan manusia, bukan menyombongkan diri. (Tafsir Ahmad Hutaiba 4/301)
  4. Bahaya Tertipu oleh Fatamorgana Dunia.
    Harta tidak akan pernah memuaskan jiwa secara hakiki. Semakin seseorang mengejar dunia murni untuk kepuasan nafsu, semakin ia merasa miskin di dalam hatinya dan berpotensi terjerumus pada sifat sombong serta melanggar syariat. (Adab al-Dunya wa al-Din 1/75)
  5. Manajemen Niat dan Prioritas Hidup.
    Hadits ini membimbing setiap muslim agar mengalihkan ambisi terbesarnya dari sekadar mengumpulkan fana-nya materi dunia menuju pengumpulan ilmu yang bermanfaat demi meraih keridhaan Allah Ta’ala. (Adab al-Dunya wa al-Din 1/75)

وصلى الله على نبينا محمد والحمد لله رب العالمين

Ditulis oleh : Yahya Firmansyah, M.Pd. (Pengasuh MDQ)

Lihat Juga

Kekuatan Melebihi Pembantu

حَدِيثُ ٥٣٦١ «فِي قَوْلِ الرَّسُولِ ﷺ لِفَاطِمَةَ وَعَلِيٍّ لَمَّا سَأَلَاهُ عَنْ خَادِمٍ: أَلَا أَدُلُّكُمَا عَلَى …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *