بسم الله الرحمن الرحيم
Seorang penuntut ilmu memadukan niat yang baik, cara menerima ilmu yang benar, kemampuan memperoleh ilmu yang kuat, dan amanah dalam menyampaikan ilmu. Di antara keterampilan yang paling menonjol adalah:
- IKHLAS DAN MELURUSKAN NIAT
Dalam menuntut ilmu, ia bertujuan mencari keridaan Allah, menghilangkan kebodohan dari dirinya dan orang lain, mengamalkan ilmu serta mendakwahkannya; bukan untuk mencari popularitas, bersaing dengan para ulama, atau berdebat.
- MEMBANGUN METODE BELAJAR YANG BERTAHAP
- Memulai dari ilmu-ilmu dasar dan pokok-pokoknya sebelum mempelajari kitab-kitab yang panjang.
- Memilih kitab-kitab tertentu dalam setiap bidang ilmu.
- Belajar kepada seorang guru yang menguasai ilmu dengan baik jika memungkinkan.
- Menentukan tahapan waktu untuk setiap kitab dan tidak berpindah-pindah secara acak antara berbagai pelajaran dan kitab.
Memusatkan perhatian pada ilmu yang terbatas namun menguasainya dengan baik lebih bermanfaat daripada mengikuti banyak pelajaran yang menyebabkan lemahnya penguasaan dan ketelitian.
- BERTANYA DAN MENDENGARKAN DENGAN BAIK
Ibnu Qayyim dalam kitab Miftah Dar as-Sa’adah menjadikan tingkatan-tingkatan ilmu sebagai berikut: bertanya dengan baik, kemudian mendengarkan dengan baik, memahami dengan baik, menghafal, mengajarkan, kemudian mengamalkan.
Pertanyaan yang bermanfaat adalah:
- Berkaitan dengan sesuatu yang dibutuhkan oleh penuntut ilmu.
- Jelas dan spesifik.
- Bertujuan mencari petunjuk, bukan untuk membangkang atau menunjukkan pengetahuan.
- Disertai sikap jujur dan sopan dengan mengatakan, “Saya belum memahami,” apabila masih terdapat sesuatu yang belum jelas.
- MEMADUKAN PEMAHAMAN DAN HAFALAN
Hafalan tidak dapat dipisahkan dari pemahaman. Seorang penuntut ilmu hendaknya menghafal teks-teks, dalil-dalil, kaidah-kaidah, dan pembagian-pembagian dasar, kemudian mengulanginya hingga benar-benar melekat.
Menghafal merupakan keterampilan yang dapat ditingkatkan melalui latihan dan pengingatan secara berulang.
Di antara cara untuk memperkuat hafalan adalah pengulangan, mudzakarah, mengajarkan hafalan kepada orang lain, dan terus-menerus mengulanginya.
- MUDZAKARAH DAN MENGINGAT KEMBALI
Mudzakarah memiliki dua bentuk:
- Dengan diri sendiri: seorang penuntut ilmu mengulang kembali suatu masalah, pendapat-pendapat yang ada, serta dalil-dalilnya dari ingatannya.
- Dengan teman: keduanya saling menyimak hafalan dan mendiskusikan berbagai permasalahan dengan tujuan memahami, bukan untuk membuat keributan atau memenangkan pendapat pribadi.
- MENCATAT ILMU DAN MENATA FAEDAH
Seorang penuntut ilmu hendaknya mencatat kaidah-kaidah, ketentuan-ketentuan, dan permasalahan-permasalahan yang jarang ditemukan, karena hanya mengandalkan ingatan dapat menyebabkan berbagai faedah tersebut hilang.
Bakr Abu Zaid dalam Hilyah Talib al-Ilm menganjurkan untuk membuat catatan yang tersusun berdasarkan tema, disertai pencatatan nama kitab, jilid, dan halaman. Hendaknya juga dibedakan antara teks yang dikutip dengan komentar atau catatan dari penuntut ilmu itu sendiri.
- MEMBACA SECARA ILMIAH
Membaca secara ilmiah bukan sekadar melewati halaman demi halaman, tetapi mencakup:
- Memilih kitab yang sesuai dengan tingkat kemampuan.
- Membaca dengan menggunakan pena dan buku catatan.
- Mencatat faedah-faedah baru.
- Menuliskan berbagai hal yang belum dipahami.
- Menghubungkan apa yang dibaca dengan informasi yang telah diketahui sebelumnya.
- Menyelesaikan sebuah kitab daripada terlalu banyak memulai kitab baru.
- MENGATUR WAKTU DAN ISTIQAMAH
Seorang penuntut ilmu hendaknya menetapkan waktu yang jelas untuk menghafal, membaca, mengulang, dan beristirahat. Sebab, memaksakan diri secara berlebihan dapat menyebabkan seseorang berhenti dan tidak melanjutkan belajar.
Demikian pula, mengatur waktu dan melakukan evaluasi terhadap diri sendiri dapat mencegah hari-hari berlalu tanpa memperoleh ilmu.
- PENELITIAN DAN DOKUMENTASI
Seorang penuntut ilmu hendaknya berpegang pada:
- Ketelitian dalam menukil.
- Memastikan kebenaran penisbatan suatu pendapat kepada pemiliknya.
- Membedakan antara kutipan secara harfiah dan kutipan berdasarkan makna.
- Menyebutkan sumber dari teks yang dinukil.
- Tidak memastikan sesuatu yang belum diverifikasi kebenarannya.
- MENGAMALKAN DAN MENGAJARKAN
Buah dari ilmu adalah seorang penuntut ilmu mengamalkan apa yang telah dipelajarinya dan menyampaikannya sesuai dengan kadar ilmu yang dimilikinya, disertai kewaspadaan dari memberikan fatwa tanpa ilmu.
Mengajarkan ilmu juga merupakan salah satu sarana untuk mengokohkan pengetahuan. Namun, hal tersebut dilakukan setelah seseorang memahami dan menguasai ilmu dengan baik.
LATIHAN HARIAN YANG DISARANKAN
- Hafalan: menetapkan jumlah kecil namun konsisten.
- Pemahaman: menjelaskan materi yang dipelajari dan menuliskan ringkasannya.
- Murajaah: mengingat kembali hafalan kemarin dan hafalan pekan sebelumnya.
- Pencatatan: mencatat minimal satu faedah yang disertai sumber yang jelas.
- Mudzakarah: menyampaikan suatu permasalahan kepada diri sendiri atau kepada seorang teman.
- Pengamalan: menentukan dampak praktis dari ilmu yang telah dipelajari.
Program ini menerapkan perpaduan antara hafalan, pemahaman, pengulangan, pencatatan, mudzakarah, dan pengaturan waktu, yang merupakan unsur-unsur yang berulang dalam metode memperoleh ilmu yang disebutkan di atas.
وصلى الله على نبينا محمد والحمد لله رب العالمين
Disusun Oleh Yahya Firmansyah, M.Pd. (Pengasuh MDQ)
SUMBER
[1] Majmu’ Fatawa wa Rasail al-Utsaimin — jilid 26, hlm. 61 [2] Abraj az-Zujaj fi Sirat al-Hajjaj — jilid 1, hlm. 15 [3] Durus asy-Syaikh Muhammad Ismail al-Muqaddim — jilid 47, hlm. 21 [4] ad-Durar al-Muntaqah min al-Kalimat al-Mulqah — jilid 11, hlm. 582 [5] Syarh Zad al-Mustaqni’ — jilid 371, hlm. 12 [6] Miftah Dar as-Sa’adah wa Mansyur Wilayat al-Ilm wal-Iradah — jilid 1, hlm. 169 [7] al-Ilm lil-Utsaimin — jilid 1, hlm. 163 [8] Syarh al-Iqtisad fi al-I’tiqad — jilid 1, hlm. 3 [9] Durus lisy-Syaikh Ali bin Umar Badhadhah — jilid 5, hlm. 7 [10] Dirasah Maudhu’iyyah lil-Haiyyah wa Lumat al-I’tiqad wal-Wasithiyyah — jilid 2, hlm. 15 [11] Sumber tidak diketahui [12] ad-Durar al-Muntaqah min al-Kalimat al-Mulqah — jilid 11, hlm. 584 [13] Liqa al-Bab al-Maftuh — jilid 213, hlm. 6 [14] Hilyah Talib al-Ilm — jilid 1, hlm. 175 [15] Durus lisy-Syaikh Muhammad al-Hasan ad-Dadu asy-Syinqithi — jilid 17, hlm. 32 [16] Waratsat al-Anbiya — jilid 1, hlm. 94 [17] Syarh Zad al-Mustaqni’ — jilid 226, hlm. 15 [18] Nataij al-Buhuts wa Khawatim al-Kutub — jilid 4, hlm. 190 [19] Hilyah Talib al-Ilm — jilid 1, hlm. 181 [20] Majallat al-Bayan — nomor 111, hlm. 62 [21] Durus li asy-Syaikh Muhammad al-Munajjid — jilid 120, hlm. 18
MDQ (MAKTABAH DAAR AL-QOLAM) Markaz Kajian Quran dan Hadits