بسم الله الرحمن الرحيم
Doa Nabi ﷺ: ‘Perbaikilah kaum Anshar dan kaum Muhajirin
Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
«لَا عَيْشَ إِلَّا عَيْشُ الْآخِرَةِ فَأَصْلِحْ الْأَنْصَارَ وَالْمُهَاجِرَةَ»
“Tidak ada kehidupan (yang hakiki) melainkan kehidupan akhirat, maka perbaikilah kaum Anshar dan Muhajirin.” (HR. Bukhari).
Makna Umum
- Hadits ini Menetapkan keutamaan istimewa para sahabat, khususnya kaum Anshar dan kaum Muhajirin, yang mendapatkan doa kebaikan, perbaikan, dan ampunan secara langsung dan khusus dari lisan mulia Rasulullah ﷺ (Irshad al-Sari, 7/15).
- Lebih jauh hadits ini menetapkan bahwa kaum Anshar dan Muhajirin adalah golongan yang senantiasa didoakan kebaikan keadaannya oleh Rasulullah ﷺ di momen-momen paling krusial dalam sejarah Islam, seperti saat mereka menggali parit di tengah dinginnya cuaca dan rasa lapar pada Perang Khandaq (Irshad al-Sari, 2/277).
Makna Per Kalimat
«لَا عَيْشَ إِلَّا عَيْشُ الْآخِرَةِ» (Tidak ada kehidupan sejati kecuali kehidupan akhirat)
- Maksud al-‘Aysyu di sini adalah kehidupan yang sempurna, kekal, dan murni tanpa dicemari kesulitan, kepayahan, rasa sakit, atau kepunahan.
- Artinya Kehidupan dunia sifatnya fana dan penuh ujian, sedangkan kehidupan akhirat adalah kenikmatan abadi yang sesungguhnya (al-Kawthar al-Jari ila Riyad Ahadith al-Bukhari, 7/15).
«فَأَصْلِحِ الأَنْصَارَ وَالْمُهَاجِرَةَ» (Maka perbaikilah kaum Anshar dan Muhajirin)
- Fashlih: Jadikanlah mereka orang-orang saleh, perbaikilah urusan agama dan dunia mereka, serta tetapkanlah mereka dalam ketaatan dan kebahagiaan. (al-Kawthar al-Jari, 7/15).
- Al-Muhajirah: Bentuk jamak atau isim jins yang bermakna kaum Muhajirin yang berhijrah dari Makkah ke Madinah karena Allah (Irshad al-Sari , 8/269).
«فَاغْفِرْ لِلْأَنْصَارِ» (Maka ampunilah kaum Anshar)
- Dalam riwayat Qatadah dari Anas, redaksi doa menggunakan lafal ampunan (al-maghfirah), dan dalam riwayat lain mencakup Muhajirin dan Anshar: «فَاغْفِرْ لِلْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ» (Minhat al-Bari, 7/104).
- Variasi redaksi lain yang saling melengkapi dalam shahihain adalah: «فَأَكْرِمِ» (muliakanlah) dan «فَبَارِكْ فِي» (berkahilah), yang semuanya memiliki kedekatan makna doa permohonan kebaikan paripurna bagi para sahabat (al-Kawthar al-Jari, 7/15).
Rincian Peristiwa
Riwayat Pertama,
«عَنْ حُمَيْدٍ قَالَ: سَمِعْتُ أَنَسًا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ: خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ إِلَى الْخَنْدَقِ فَإِذَا الْمُهَاجِرُونَ وَالْأَنْصَارُ يَحْفِرُونَ فِي غَدَاةٍ بَارِدَةٍ، فَلَمْ يَكُنْ لَهُمْ عَبِيدٌ يَعْمَلُونَ ذَلِكَ لَهُمْ، فَلَمَّا رَأَى مَا بِهِمْ مِنَ النَّصَبِ وَالْجُوعِ قَالَ: «اللَّهُمَّ إِنَّ الْعَيْشَ عَيْشُ الآخِرَهْ، فَاغْفِرْ لِلْأَنْصَارِ وَالْمُهَاجِرَهْ». فَقَالُوا مُجِيبِينَ لَهُ:
نَحْنُ الَّذِينَ بَايَعُوا مُحَمَّدَا … عَلَى الْجِهَادِ مَا بَقِينَا أَبَدَا»
Dari Humaid ath-Thawil, ia berkata, “Aku mendengar Anas bin Malik رضي الله عنه berkata:
‘Rasulullah ﷺ keluar menuju parit (Khandaq). Beliau mendapati kaum Muhajirin dan Anshar sedang menggali parit pada pagi hari yang dingin. Mereka tidak memiliki budak yang dapat mengerjakan pekerjaan tersebut untuk mereka. Ketika Rasulullah ﷺ melihat keletihan dan kelaparan yang menimpa mereka, beliau bersabda:
“Ya Allah, sesungguhnya kehidupan yang hakiki adalah kehidupan akhirat. Maka ampunilah kaum Anshar dan Muhajirin.”
Para sahabat pun menjawab beliau dengan melantunkan syair:
“Kamilah orang-orang yang telah berbaiat kepada Muhammad untuk berjihad selama kami masih hidup.”’ (HR. Buhari)
Riwayat Kedua
«عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ فِي الْخَنْدَقِ وَهُمْ يَحْفِرُونَ وَنَحْنُ نَنْقُلُ التُّرَابَ عَلَى أَكْتَادِنَا، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «اللَّهُمَّ لَا عَيْشَ إِلَّا عَيْشُ الآخِرَةِ، فَاغْفِرْ لِلْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ»»
Dari Sahl bin Sa’d رضي الله عنه, ia berkata: “Kami bersama Rasulullah ﷺ dalam peristiwa penggalian parit. Sebagian sahabat menggali, sedangkan kami mengangkut tanah galian di atas pundak-pundak kami. Rasulullah ﷺ kemudian bersabda:
‘Ya Allah, tidak ada kehidupan sejati kecuali kehidupan akhirat. Maka ampunilah kaum Muhajirin dan Anshar.’” (HR. Bukhari Muslim)
Riwayat Ketiga
«عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: جَعَلَ الْمُهَاجِرُونَ وَالْأَنْصَارُ يَحْفِرُونَ الْخَنْدَقَ حَوْلَ الْمَدِينَةِ وَيَنْقُلُونَ التُّرَابَ عَلَى مُتُونِهِمْ وَهُمْ يَقُولُونَ: نَحْنُ الَّذِينَ بَايَعُوا مُحَمَّدَا عَلَى الإِسْلَامِ مَا بَقِينَا أَبَدَا، قَالَ: يَقُولُ النَّبِيُّ ﷺ وَهُوَ يُجِيبُهُمْ: «اللَّهُمَّ إِنَّهُ لَا خَيْرَ إِلَّا خَيْرُ الآخِرَهْ، فَبَارِكْ فِي الأَنْصَارِ وَالْمُهَاجِرَهْ»، قَالَ: يُؤْتَوْنَ بِمِلْءِ كَفَّيْ مِنَ الشَّعِيرِ فَيُصْنَعُ لَهُمْ بِإِهَالَةٍ سَنِخَةٍ تُوضَعُ بَيْنَ يَدَيِ الْقَوْمِ، وَالْقَوْمُ جِيَاعٌ وَهِيَ بَشِعَةٌ فِي الْحَلْقِ، وَلَهَا رِيحٌ مُنْتِنٌ»
Dari Anas رضي الله عنه, ia berkata: “Kaum Muhajirin dan Anshar mulai menggali parit di sekeliling Madinah dan mengangkut tanah galian di atas punggung mereka. Sambil bekerja, mereka melantunkan syair:
‘Kamilah orang-orang yang telah berbaiat kepada Muhammad untuk tetap berada di atas Islam selama kami masih hidup.’
Nabi ﷺ membalas syair mereka dengan doa:
‘Ya Allah, sesungguhnya tidak ada kebaikan yang hakiki kecuali kebaikan akhirat. Maka berkahilah kaum Anshar dan Muhajirin.’
Anas berkata, ‘Kemudian dibawakan kepada mereka dua genggam gandum sya’ir yang diolah dengan lemak cair yang telah basi dan berbau tengik. Makanan itu diletakkan di hadapan mereka, padahal mereka sedang kelaparan. Rasanya tidak enak di tenggorokan dan baunya pun tidak sedap.” (HR. Bukhari)
Faidah dan Petunjuk Hidup
1. Menanamkan Orientasi Akhirat saat Menghadapi Kepayahan Dunia
Ketika menghadapi keletihan fisik, beban kerja, atau kesempitan ekonomi dalam menjalankan ketaatan, seorang mukmin dianjurkan mengingat bahwa kenyamanan hakiki bukanlah di dunia, melainkan di akhirat (Irshad al-Sari, 6/154; Sharh Riyad al-Salihin Ahmad Hutayba, 31/10).
2. Keagungan Kedudukan Sahabat Nabi ﷺ
Menunjukkan tingginya derajat kaum Muhajirin dan Anshar karena mereka mendapatkan doa langsung dari Rasulullah ﷺ yang dikabulkan oleh Allah ﷻ (Irshad al-Sari, 6/154).
3. Keteladanan dan Empati Pemimpin (Qiyadah)
Rasulullah ﷺ terjun langsung bekerja bersama para sahabatnya dalam menggali parit dan memikul tanah, seraya membakar semangat mereka dengan kalimat-kalimat pengingat akhirat dan doa (Irshad al-Sari, 8/270).
4. Meringankan Beban Aktivitas dengan Lantunan Baik (Rojaz / Nasyid)
Diperbolehkan melantunkan bait-bait kalimat yang berirama sederhana tanpa musik untuk membangkitkan semangat dan mengusir rasa jenuh atau lelah saat melakukan amal kebajikan (al-Tawdih li Sharh al-Jami al-Sahih, 20/392).
5. Keseimbangan antara Ikhtiar Nyata dan Doa
Para sahabat tidak hanya berpangku tangan berdoa, melainkan bekerja keras mempersiapkan pertahanan fisik (menggali parit), yang dibarengi dengan kepasrahan dan permohonan taufik serta ampunan kepada Allah ﷻ (Sharh Riyad al-Salihin Ahmad Hutayba, 31/10).
وصلى الله على نبينا محمد والحمد لله رب العالمين
Ditulis oleh : Yahya Firmansyah, M.Pd. (Pengasuh MDQ)
MDQ (MAKTABAH DAAR AL-QOLAM) Markaz Kajian Quran dan Hadits