بسم الله الرحمن الرحيم
Bagaimana Adab kepada Sang Pencipta?
Syekh Ibnu ‘Utsaimin berkata: Akhlak yang baik dalam bermuamalah dengan Sang Pencipta mencakup tiga perkara:
1. Menerima berita dari Allah Ta‘ala dengan membenarkannya
Yaitu seseorang tidak memiliki keraguan atau kebimbangan dalam membenarkan berita dari Allah Ta‘ala dan berita dari Rasul-Nya ﷺ. Sebab, berita dari Allah سبحانه وتعالى berasal dari ilmu-Nya, dan Dia adalah Zat yang paling benar perkataan-Nya, sebagaimana Allah Ta‘ala berfirman tentang diri-Nya:
﴿وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ اللَّهِ حَدِيثًا﴾
“Dan siapakah yang lebih benar perkataannya daripada Allah?” (QS. An-Nisa: 87).
Di antara berita tersebut adalah berita tentang Hari Kiamat. Nabi ﷺ mengabarkan bahwa:
“Sesungguhnya matahari akan mendekat kepada seluruh makhluk pada hari Kiamat sejauh satu mil.”
Yang dimaksud satu mil bisa berupa mil alat celak atau mil sebagai ukuran jarak. Artinya, jarak antara matahari dan kepala manusia sangat dekat. Namun demikian, manusia tidak terbakar oleh panasnya. Padahal, jika matahari saat ini didekatkan kepada bumi walaupun hanya seukuran satu jengkal, niscaya bumi akan terbakar.
Maka seseorang mungkin berkata, “Bagaimana mungkin matahari mendekat kepada kepala manusia pada hari Kiamat dengan jarak sedemikian dekat, tetapi manusia tetap hidup dan tidak terbakar?”
Lalu, bagaimanakah adab seorang mukmin kepada Rabb dan Nabinya ﷺ terhadap hadis ini?
Adab terhadap hadis tersebut adalah menerimanya dan membenarkannya. Tidak boleh ada rasa keberatan dalam hati, kesempitan, ataupun keraguan terhadapnya. Hendaknya kita mengetahui bahwa apa yang diberitakan oleh Rasulullah ﷺ dalam hal ini adalah benar.
Kita tidak mungkin menyamakan keadaan akhirat dengan keadaan dunia, karena terdapat perbedaan yang sangat besar antara keduanya. Oleh karena itu, seorang mukmin menerima berita semacam ini dengan hati yang lapang dan penuh ketenangan. Pemahamannya pun menjadi luas dalam menerimanya.
Dengan adabnya kepada Allah dan Rasul-Nya ﷺ, ia memperbaiki akhlaknya dan meluruskan usahanya. Sikap yang benar dalam menyikapi perkataan dan perbuatan yang diterima dari Allah dan Rasul-Nya ﷺ akan membawa kepada kebaikan amal dan pengampunan dosa.
Allah Ta‘ala berfirman:
﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا﴾
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar. Niscaya Dia akan memperbaiki amal-amal kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian. Dan barang siapa menaati Allah dan Rasul-Nya, sungguh, ia telah memperoleh kemenangan yang besar.”
2. Menerima hukum-hukum Allah dengan melaksanakan dan menerapkannya
Adab kepada Allah dalam menyikapi hukum-hukum-Nya adalah seseorang menerimanya dengan penuh penerimaan, melaksanakan, dan menerapkannya. Ia tidak menolak satu pun dari hukum-hukum Allah.
Apabila seseorang menolak salah satu hukum Allah, maka itu merupakan buruknya adab kepada Allah, baik ia menolaknya karena mengingkari hukum tersebut, menolaknya karena merasa sombong dan enggan mengamalkannya, maupun menolaknya karena meremehkan pelaksanaannya. Semua itu bertentangan dengan akhlak yang baik kepada Allah ‘Azza wa Jalla.
Contohnya adalah shalat. Tidak diragukan bahwa shalat terasa berat bagi sebagian orang. Shalat juga terasa berat bagi orang-orang munafik, sebagaimana Nabi ﷺ bersabda:
«أَثْقَلُ الصَّلَاةِ عَلَى الْمُنَافِقِينَ صَلَاةُ الْعِشَاءِ وَصَلَاةُ الْفَجْرِ»
“Shalat yang paling berat bagi orang-orang munafik adalah shalat Isya dan shalat Subuh.”
Namun, bagi seorang mukmin, shalat adalah penyejuk mata dan ketenteraman jiwanya. Maka, bentuk adab yang baik kepada Allah ‘Azza wa Jalla dalam perkara shalat adalah menunaikannya dengan hati yang lapang dan tenang, serta dengan mata yang merasa sejuk dan bahagia.
Contoh lainnya adalah puasa. Tidak diragukan bahwa puasa terasa berat bagi manusia, karena ketika berpuasa seseorang meninggalkan kebiasaan yang biasa dilakukannya, berupa makan, minum, dan hubungan suami istri. Hal ini tentu merupakan sesuatu yang berat.
Namun, seorang mukmin yang memiliki adab yang baik kepada Rabb-nya ‘Azza wa Jalla akan menerima kewajiban tersebut dengan hati yang lapang dan penuh ketenangan. Jiwanya pun terasa luas dalam menjalankannya. Bahkan, ia mampu berpuasa pada hari-hari yang panas dan panjang dengan penuh kerelaan dan kelapangan hati, karena ia memiliki adab yang baik kepada Rabb-nya.
Adapun buruknya adab kepada Allah adalah ketika seseorang menyikapi ibadah semacam ini dengan kejengkelan dan kebencian. Seandainya ia tidak takut terhadap akibat buruk yang akan menimpanya, niscaya ia tidak akan menjalankan kewajiban puasa tersebut.
3. Menerima takdir Allah dengan kesabaran dan keridaan
Contohnya, takdir Allah ada yang sesuai dengan apa yang diinginkan manusia dan ada pula yang tidak sesuai dengannya. Misalnya, penyakit, kemiskinan, dan berbagai musibah secara umum merupakan perkara yang tidak disukai manusia.
Maka, bentuk adab yang baik kepada Allah dalam menyikapi takdir-Nya adalah meridai apa yang telah Allah takdirkan untukmu, merasa tenang menerimanya, dan mengetahui bahwa Allah سبحانه وتعالى tidaklah menetapkan sesuatu untukmu kecuali karena adanya hikmah dan tujuan yang terpuji, yang karenanya Dia berhak mendapatkan rasa syukur.
Oleh karena itu, bentuk adab yang baik kepada Allah dalam menyikapi takdir-Nya adalah seseorang meridai, berserah diri, dan merasa tenang terhadap apa yang telah Allah tetapkan.
Karena itu, Allah Ta‘ala memuji orang-orang yang bersabar. Mereka adalah orang-orang yang ketika ditimpa musibah, mereka berkata:
﴿إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ﴾
“Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali.”
Allah juga berfirman:
﴿وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ﴾
“Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.”
Inilah tiga perkara yang menjadi poros utama dalam mewujudkan adab yang baik kepada Allah ‘Azza wa Jalla.
وصلى الله على نبينا محمد والحمد لله رب العالمين
- Ditulis oleh : Yahya Firmansyah, M.Pd. (Pengasuh MDQ)
- Rujukan : Durus Tarbawiyah min Hadits Annabawiyyah, Khalid bin Abdurrohman Al Husainan
MDQ (MAKTABAH DAAR AL-QOLAM) Markaz Kajian Quran dan Hadits