Berikut ini kutipan riwayat tentang mi’raj yang terdapat dalam kitab Shahih al-Bukhari Bab bagaimana shalat diwajibkan pada malam Isra
قَالَ أَنَسٌ فَذَكَرَ أَنَّهُ وَجَدَ فِي السَّمَوَاتِ آدَمَ وَإِدْرِيسَ وَمُوسَى وَعِيسَى وَإِبْرَاهِيمَ صَلَوَاتُ اللَّهِ عَلَيْهِمْ
Anas berkata, “Kemudian Nabi ﷺ menyebutkan bahwa pada tingkatan langit-langit itu beliau bertemu dengan Adam, Idris, Musa, ‘Isa dan Ibrahim semoga Allah memberi shalawat-Nya kepada mereka
Apa hikmah adanya para nabi di langit serta Rasulullah ﷺ melihat mereka, dan mengapa hanya nabi-nabi itu saja?
Dikatakan bahwa hikmah dibatasinya pada nabi-nabi yang disebutkan itu adalah sebagai isyarat terhadap peristiwa yang akan dialami Nabi ﷺ bersama kaumnya yang serupa dengan apa yang dialami oleh masing-masing nabi tersebut. Adapun dengan Adam, terdapat isyarat melalui peristiwa keluarnya beliau dari surga ke bumi terhadap apa yang akan dialami Nabi ﷺ berupa hijrah ke Madinah. Persamaan antara keduanya adalah kesulitan dan beratnya meninggalkan tempat yang telah dicintai, kemudian pada akhirnya masing-masing kembali ke tempat asalnya.
Dengan Isa dan Yahya, terdapat isyarat terhadap apa yang dialami Nabi ﷺ di awal hijrah berupa permusuhan orang-orang Yahudi, kedurhakaan mereka yang terus-menerus, serta keinginan mereka untuk mencelakakan beliau.
Dengan Yusuf, terdapat isyarat terhadap apa yang dilakukan oleh saudara-saudaranya, sebagaimana yang dilakukan oleh kaum Quraisy terhadap Nabi ﷺ dengan memerangi beliau dan berusaha membinasakannya. Namun akhirnya kemenangan berada di pihak beliau. Nabi ﷺ juga memberi isyarat hal ini ketika berkata kepada kaum Quraisy pada hari Fathu Makkah: “Aku mengatakan kepada kalian sebagaimana yang dikatakan Yusuf: ‘Tidak ada celaan atas kalian pada hari ini.’”
Dengan Idris, terdapat isyarat terhadap tingginya kedudukan beliau di sisi Allah.
Dengan Harun, terdapat isyarat bahwa kaumnya akhirnya kembali mencintainya setelah sebelumnya menyakitinya.
Dengan Musa, terdapat isyarat terhadap apa yang dialami Nabi ﷺ dalam menghadapi kaumnya. Beliau juga pernah berkata: “Musa telah disakiti lebih dari ini, namun ia bersabar.”
Dengan Ibrahim, karena beliau bersandar pada Baitul Ma’mur, terdapat isyarat terhadap apa yang menjadi penutup kehidupan Nabi ﷺ, yaitu penegakan manasik haji dan pengagungan terhadap Ka’bah.
Ini adalah kesesuaian-kesesuaian yang sangat halus yang dikemukakan oleh As-Suhaili, lalu aku menukilkannya dengan ringkasan yang telah diperbaiki.
(Fathul Bari 7/251)
MDQ (MAKTABAH DAAR AL-QOLAM) Markaz Kajian Quran dan Hadits