بسم الله الرحمن الرحيم
Bagaimana Meraih Ridha terhadap Ketetapan Allah?
Allah Ta‘ala berfirman:
إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ
“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ketetapan (takdir).”
Di antara hal yang mendorong seorang mukmin untuk ridha terhadap ketetapan Allah adalah dengan mewujudkan keimanannya terhadap makna sabda Nabi ﷺ:
«لَا يَقْضِي اللَّهُ لِلْمُؤْمِنِ قَضَاءً إِلَّا كَانَ خَيْرًا لَهُ: إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ، كَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ، كَانَ خَيْرًا لَهُ، وَلَيْسَ ذَلِكَ إِلَّا لِلْمُؤْمِن»
“Allah tidak menetapkan suatu ketetapan bagi seorang mukmin kecuali ketetapan itu baik baginya. Jika ia mendapatkan kesenangan, lalu ia bersyukur, maka itu baik baginya. Jika ia mendapatkan kesusahan, lalu ia bersabar, maka itu juga baik baginya. Dan hal itu tidak dimiliki kecuali oleh seorang mukmin.” (HR. Muslim)
Dua Tingkatan Seorang Mukmin dalam Menghadapi Musibah
Tingkatan pertama: Ridha terhadap ketetapan tersebut.
Ini merupakan tingkatan yang sangat tinggi dan mulia.
Allah Ta‘ala berfirman:
مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ
“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah. Dan barang siapa beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya.”
‘Alqamah berkata:
“Musibah yang menimpa seseorang, kemudian ia mengetahui bahwa musibah itu berasal dari Allah, lalu ia menerimanya dan meridhainya.”
Abu Ad-Darda’ berkata: “Sesungguhnya apabila Allah menetapkan suatu ketetapan, Dia menyukai agar ketetapan tersebut diterima dengan keridaan.”
Ibnu Mas‘ud berkata: “Sesungguhnya Allah, dengan keadilan dan kebijaksanaan-Nya, menjadikan ketenangan dan kebahagiaan dalam keyakinan dan keridaan, serta menjadikan kegelisahan dan kesedihan dalam keraguan dan ketidakridhaan.”
‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz berkata: “Aku memasuki pagi hari dan tidak memiliki kebahagiaan kecuali dalam perkara-perkara yang telah ditetapkan oleh Allah berupa qadha dan qadar.”
Barang siapa mencapai tingkatan ini, maka seluruh kehidupannya akan dipenuhi kenikmatan dan kebahagiaan.
Allah Ta‘ala berfirman:
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً
“Barang siapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan, dalam keadaan beriman, maka pasti Kami akan memberikan kepadanya kehidupan yang baik.”
Sebagian ulama salaf berkata: “Kehidupan yang baik adalah keridaan dan qanaah (merasa cukup).”
‘Abdul Wahid bin Zaid berkata: “Ridha adalah pintu Allah yang paling agung, surga dunia, dan tempat peristirahatan bagi orang-orang yang beribadah.”
Tingkatan Kedua: Bersabar atas Musibah
Tingkatan kedua adalah bersabar atas musibah. Tingkatan ini diperuntukkan bagi orang yang belum mampu mencapai keridaan terhadap ketetapan Allah.
Keridaan merupakan keutamaan yang dianjurkan dan disunnahkan, sedangkan sabar adalah kewajiban yang harus dilakukan oleh seorang mukmin. Di dalam kesabaran terdapat banyak kebaikan. Allah telah memerintahkannya dan menjanjikan pahala yang besar bagi orang-orang yang bersabar.
Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:
إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ
“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas.”
Perbedaan antara Ridha dan Sabar
Sabar adalah menahan dan mengendalikan diri agar tidak mengeluh atau menunjukkan ketidakridhaan, meskipun masih merasakan sakit dan berharap agar penderitaan tersebut segera berakhir. Sabar juga berarti menahan anggota tubuh agar tidak melakukan tindakan yang didorong oleh rasa putus asa dan kegelisahan.
Adapun ridha adalah kelapangan dan ketenteraman hati dalam menerima ketetapan Allah, serta tidak lagi berharap agar sesuatu yang menyakitkan tersebut dihilangkan, meskipun rasa sakit itu masih tetap dirasakan.
Namun, keridaan dapat meringankan rasa sakit tersebut, karena hati mendapatkan ketenangan dari keyakinan dan pengetahuan tentang Allah. Bahkan, apabila keridaan semakin kuat, bisa jadi rasa sakit tersebut hilang sama sekali dari perasaan seseorang.
Beberapa Hal yang Bertentangan dengan Ridha terhadap Qadha dan Qadar
- Menentang ketetapan Allah yang bersifat syar‘i dan agama.
- Meninggalkan tawakal kepada Allah.
- Merasa tidak ridha terhadap apa yang telah Allah bagikan.
- Bersedih secara berlebihan atas sesuatu yang telah berlalu.
- Meratap, menampar-nampar pipi, dan merobek-robek pakaian.
- Mengharapkan kematian karena musibah atau penderitaan yang menimpa.
- Tidak ridha terhadap rezeki yang telah Allah tetapkan dan bagikan.
- Panik, gelisah, dan tidak mampu mengendalikan diri ketika menghadapi musibah.
وصلى الله على نبينا محمد والحمد لله رب العالمين
- Ditulis oleh : Yahya Firmansyah, M.Pd. (Pengasuh MDQ)
- Rujukan : Durus Tarbawiyah min Hadits Annabawiyyah, Khalid bin Abdurrohman Al Husainan
MDQ (MAKTABAH DAAR AL-QOLAM) Markaz Kajian Quran dan Hadits