Official Website al-Ustadz Yahya Firmansyah, M.Pd.
Breaking News

3 Tingkatan Orang yang Mengadu

بسم الله الرحمن الرحيم

Allah Azza wa Jalla Berfirman

قَالَ اِنَّمَآ اَشْكُوْا بَثِّيْ وَحُزْنِيْٓ اِلَى اللّٰهِ

Dia (Ya‘qub) menjawab, “Hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku (QS. Yusuf : 86)

Imam Ibn al-Qayyim menjelaskan dalam kitabnya Al-Fawaid mengenai tingkatan orang yang mengadukan keadaannya (syakwa/keluh kesah) menjadi tiga tingkatan.

1. Tingkatan Tertinggi: Mengadukan Diri Sendiri kepada Allah (A’lal Maratib)

Tingkatan ini merupakan kedudukan orang yang paling mengenal Allah (a’raful ‘arifin). Ketika tertimpa musibah, kesulitan, atau gangguan dari orang lain, ia tidak menyalahkan makhluk di sekitarnya. Akan tetapi, ia mengadukan kekurangan, kelalaian, dan dosa-dosa dirinya sendiri kepada Allah. (Al-Fawaid, Jilid 1, hlm. 87)

Ia memahami bahwa kezaliman atau gangguan manusia yang menimpanya pada hakikatnya berkaitan dengan dosa-dosanya sendiri, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ

Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri.” (QS. Asy-Syura: 30)

Allah Ta’ala juga berfirman:

مَا أَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللَّهِ وَمَا أَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَفْسِك

“Kebajikan apa pun yang kamu peroleh adalah dari sisi Allah, dan keburukan apa pun yang menimpamu, itu dari (kesalahan) dirimu sendiri.” (QS. An-Nisa’: 79)

Allah Ta’ala berfirman:

أَوَلَمَّا أَصَابَتْكُمْ مُصِيبَةٌ قَدْ أَصَبْتُمْ مِثْلَيْهَا قُلْتُمْ أَنَّىٰ هَٰذَا ۖ قُلْ هُوَ مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِكُم

“Dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padahal kamu telah menimpakan musibah dua kali lipat (pada peperangan Badar), kamu berkata: ‘Dari mana datangnya (kekalahan) ini?’ Katakanlah: ‘Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri.’” (QS. Ali ‘Imran: 165)

Oleh karena itu, pengaduannya berfokus pada taubat, istigfar, dan perbaikan diri di hadapan Allah Ta’ala. (Al-Fawaid, Jilid 1, hlm. 87)


2. Tingkatan Pertengahan: Mengadukan Makhluk kepada Allah (Awsathuha)

Tingkatan ini merupakan kedudukan seorang hamba yang ketika dizalimi, disakiti, atau dirugikan oleh manusia, ia tidak mengumbar keluh kesahnya kepada sesama makhluk. Ia justru mengadukan kezaliman makhluk tersebut kepada Allah. (Al-Fawaid, Jilid 1, hlm. 87)

Sikap ini dicontohkan oleh para nabi, di antaranya Nabi Ya’qub ‘alaihissalam ketika menghadapi tipu daya dan perbuatan anak-anaknya. Beliau berkata:

قَالَ إِنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللَّهِ وَأَعْلَمُ مِنَ اللَّهِ مَالَا تَعْلَمُون

“Dia (Ya’qub) berkata: ‘Sesungguhnya hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku, dan aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui.’” (QS. Yusuf: 86)

Mengadukan makhluk kepada Allah merupakan hal yang dibenarkan dan terpuji, karena seseorang meminta pertolongan dan keadilan kepada Dzat Yang Mahakuasa lagi Maha Menolong, tanpa mencederai kesabaran.


3. Tingkatan Terendah: Mengadukan Allah kepada Makhluk-Nya (Akhsaha)

Tingkatan ini merupakan bentuk puncak kebodohan (ghayatul jahl). Orang pada tingkatan ini berkeluh kesah atas takdir, rezeki yang sempit, sakit, atau ujian hidup kepada sesama manusia dengan nada memprotes ketetapan Allah Ta’ala. (Al-Fawaid, Jilid 1, hlm. 87)

Ibn al-Qayyim menjelaskan kebodohan orang semacam ini dari dua sisi:

Pertama: Bodoh terhadap Tuhannya.
Seandainya ia mengenal Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Bijaksana, tentu ia tidak akan mengeluhkan ketetapan-Nya. (Al-Fawaid, Jilid 1, hlm. 87)

Kedua: Bodoh terhadap makhluk.
Seandainya ia mengenal watak makhluk yang lemah, fakir, dan tidak mampu memberikan manfaat atau menolak bahaya, tentu ia tidak akan mengadukan keadaannya kepada mereka. (Al-Fawaid, Jilid 1, hlm. 87)

Sebagian ulama salaf berkata kepada seseorang yang mengeluhkan kesempitan hidupnya kepada orang lain:

“Demi Allah, engkau tidaklah menambah sesuatu melainkan mengadukan Dzat yang menyayangimu (Allah) kepada orang yang tidak menyayangimu (manusia).”

Demikian pula disebutkan dalam syair:

“Jika engkau mengadu kepada anak cucu Adam, hakikatnya engkau mengadukan Dzat Yang Maha Penyayang kepada yang tidak menyayangimu.”

وصلى الله على نبينا محمد والحمد لله رب العالمين

  • Ditulis oleh : Yahya Firmansyah, M.Pd. (Pengasuh MDQ)
  • Rujukan : al Fawaid Ibn Qoyyim al Jauziyah

Lihat Juga

3 Dampak Buruk Kesedihan

بسم الله الرحمن الرحيم Hakikat Kesedihan (Al-Huzn) dalam Pandangan Syariat Ayat dan penjelasan berikut berkaitan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *