بسم الله الرحمن الرحيم
Hakikat Kesedihan (Al-Huzn) dalam Pandangan Syariat
Ayat dan penjelasan berikut berkaitan erat dengan hakikat kesedihan (al-huzn) dalam pandangan syariat, serta bagaimana setan memanfaatkannya untuk melemahkan seorang mukmin.
1. Tafsir Singkat QS. Al-Mujadilah: 10
Allah ﷻ berfirman:
إِنَّمَا ٱلنَّجۡوَىٰ مِنَ ٱلشَّيۡطَٰنِ لِيَحۡزُنَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَلَيۡسَ بِضَارِّهِمۡ شَيۡـًٔا إِلَّا بِإِذۡنِ ٱللَّهِۚ وَعَلَى ٱللَّهِ فَلۡيَتَوَكَّلِ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ
“Sesungguhnya pembicaraan rahasia itu hanyalah dari setan, agar orang-orang yang beriman itu bersedih hati, sedang pembicaraan itu tiadalah memberi mudarat sedikit pun kepada mereka, kecuali dengan izin Allah. Dan kepada Allah-lah hendaknya orang-orang yang beriman bertawakal.” (QS. Al-Mujadilah: 10)
Makna Ayat
Bisikan rahasia atau persekongkolan yang mengandung dosa dan permusuhan didorong oleh setan untuk menimbulkan kecemasan, kecurigaan, dan kesedihan di hati orang-orang beriman. [Tafsir al-Munir, 28/31; Tafsir as-Sa’di, 1/846]
Tujuan Setan
Memasukkan kesedihan ke dalam hati seorang mukmin merupakan salah satu tujuan setan untuk melemahkan dan mengganggu dirinya. [La Tahzan, 1/73; Madarij as-Salikin, 2/168]
Penjagaan Syariat
Sebagai bentuk perlindungan terhadap perasaan seorang mukmin agar tidak timbul kesedihan, Rasulullah ﷺ bersabda:
«إِذَا كُنْتُمْ ثَلاَثَةً فَلاَ يَتَنَاجَى اثْنَانِ دُونَ صَاحِبِهِمَا فَإِنَّ ذَلِكَ يُحْزِنُهُ»
“Jika kalian bertiga, janganlah dua orang berbisik-bisik tanpa mengikutsertakan orang ketiga, karena hal itu dapat membuatnya bersedih hati.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
2. Tiga Dampak Buruk Kesedihan
Dalam pembahasan tentang perjalanan menuju Allah, kesedihan yang berlarut-larut memiliki dampak buruk terhadap hati dan kehendak seseorang. [Mawsu‘ah Fiqh al-Qulub, 2/2037; Zad al-Ma‘ad, 2/428]
1. يُضْعِفُ الْقَلْبَ
Melemahkan Hati
Kesedihan dapat mengikis energi batin dan melemahkan daya tahan hati. Hati yang terus-menerus dirundung kesedihan menjadi rapuh, mudah putus asa, dan sulit merasakan ketenangan dalam zikir serta manisnya ibadah. [Zad al-Ma‘ad, 2/428; Ad-Da’ wa ad-Dawa’, 1/73]
2. يُوهِنُ الْعَزْمَ
Melumpuhkan Tekad
Kesedihan dapat melemahkan tekad yang sebelumnya kuat untuk melakukan ketaatan dan amal kebajikan. Orang yang dikuasai kesedihan cenderung kehilangan daya juang dan menunda-nunda kebaikan. [Zad al-Ma‘ad, 2/428; La Tahzan]
3. يُضِرُّ الْإِرَادَةَ
Merusak Kehendak dan Kemauan
Kesedihan dapat merusak dorongan aktif seseorang untuk melakukan hal-hal yang bermanfaat. Jiwa yang seharusnya bergerak maju menuju rida Allah justru terbelenggu oleh penyesalan terhadap sesuatu yang telah berlalu dan tidak dapat diubah. [Zad al-Ma‘ad, 2/327; Tafsir al-Qasimi, 2/444]
3. Hakikat Kesedihan dalam Perjalanan Menuju Allah
A. Kesedihan Bukan Kedudukan Iman yang Dituntut
Kesedihan bukanlah salah satu tingkatan iman (maqam) yang diperintahkan atau dipuji oleh syariat. Ia lebih merupakan suatu rintangan atau keadaan yang menghadang seseorang dalam perjalanan menuju Allah (‘awaridh ath-thariq). [Tariq al-Hijratain wa Bab as-Sa‘adatain, 1/278; Mawsu‘ah Fiqh al-Qulub, 2/2037]
Allah ﷻ berfirman:
وَلَا تَهِنُواْ وَلَا تَحۡزَنُواْ وَأَنتُمُ ٱلۡأَعۡلَوۡنَ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ
“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah pula kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS. Ali ‘Imran: 139)
B. Kesedihan Sifatnya Menghentikan, Bukan Menggerakkan
Kesedihan merupakan kondisi yang cenderung menghentikan langkah seseorang (muwaqqif) dan tidak mendorongnya untuk maju (ghair musayyir). Apa yang telah berlalu tidak dapat diperbaiki dengan kesedihan, tetapi dihadapi dengan rida, istighfar, kesabaran, dan iman kepada takdir Allah. [Madarij as-Salikin, 2/168; Tafsir al-Qasimi, 2/444; Mukhtasar Zad al-Ma‘ad, 1/75]
C. Doa Perlindungan Nabi ﷺ
Karena kesedihan dapat melemahkan hati dan menghambat perjalanan seseorang menuju Allah, Nabi ﷺ memohon perlindungan darinya:
«اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ»
“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari rasa gelisah dan rasa sedih.” (HR. Al-Bukhari)
4. Sikap Seorang Mukmin Ketika Dilanda Kesedihan
Apabila seseorang tertimpa kesedihan di luar kehendaknya, ia tidak berdosa hanya karena munculnya rasa tersebut. Yang dituntut adalah tidak larut di dalamnya, kemudian menghadapinya dengan sabar, bertawakal kepada Allah, memperbanyak istighfar, dan segera bangkit agar perjalanan hati menuju Allah tidak terputus. [Mawsu‘ah Fiqh al-Qulub, 2/2037; Tafsir as-Sa‘di, 1/846; Tafsir al-Qasimi, 2/444]
وصلى الله على نبينا محمد والحمد لله رب العالمين
Ditulis oleh : Yahya Firmansyah, M.Pd. (Pengasuh MDQ)
MDQ (MAKTABAH DAAR AL-QOLAM) Markaz Kajian Quran dan Hadits