Official Website al-Ustadz Yahya Firmansyah, M.Pd.
Breaking News

6 Sifat Sholat Orang Munafiq

بسم الله الرحمن الرحيم

Allah Azza wa Jalla berfirman

اِنَّ الْمُنٰفِقِيْنَ يُخٰدِعُوْنَ اللّٰهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْۚ وَاِذَا قَامُوْٓا اِلَى الصَّلٰوةِ قَامُوْا كُسَالٰىۙ يُرَاۤءُوْنَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُوْنَ اللّٰهَ اِلَّا قَلِيْلًاۖ

Sesungguhnya orang-orang munafik itu hendak menipu Allah, tetapi Allah membalas tipuan mereka (dengan membiarkan mereka larut dalam kesesatan dan penipuan mereka). Apabila berdiri untuk salat, mereka melakukannya dengan malas dan bermaksud riya di hadapan manusia. Mereka pun tidak mengingat Allah, kecuali sedikit sekali. (QS. Annisa ayat 142)

Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam kitabnya Ash-Shalah menyebutnya sebagai bentuk nifak ‘amali (kemunafikan dalam perbuatan) yang tampak dari cara seseorang memperlakukan shalat (Ash-Shalah, juz 1, hlm. 122).

1. MALAS KETIKA BERDIRI MENUNAIKANNYA

Orang munafik merasa shalat sebagai beban yang berat bagi hatinya. Mereka tidak memiliki kerinduan untuk bermunajat kepada Allah dan tidak mengharapkan pahala dari-Nya. Oleh karena itu, ketika bangkit untuk melaksanakan shalat, tubuh dan jiwanya terasa berat dan lamban (Tafsir al-Qur’an al-Karim, juz 5, hlm. 313; Durus asy-Syaikh Khalid ar-Rasyid, juz 20, hlm. 12).

Allah ﷻ berfirman:

وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قَامُوا كُسَالَى

“Dan apabila mereka berdiri untuk shalat, mereka berdiri dengan malas.” (QS. An-Nisa’: 142)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

«إِنَّ أَثْقَلَ صَلَاةٍ عَلَى الْمُنَافِقِينَ صَلَاةُ الْعِشَاءِ وَصَلَاةُ الْفَجْرِ، وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِيهِمَا لَأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا»

“Sesungguhnya shalat yang paling berat bagi orang-orang munafik adalah shalat Isya dan shalat Subuh. Sekiranya mereka mengetahui keutamaan yang ada pada keduanya, niscaya mereka akan mendatanginya walaupun dengan merangkak.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

2. RIYA’ DALAM PELAKSANAANNYA

Tujuan shalat orang munafik bukan karena keikhlasan mencari ridha Allah, tetapi agar dilihat, dipuji, atau dinilai baik oleh manusia. Jika berada di hadapan banyak orang, mereka mendirikan shalat; namun ketika sendirian, mereka meremehkan atau bahkan meninggalkannya (Limadza Nushalli, juz 9, hlm. 7; Ghurbat al-Islam, juz 2, hlm. 734).

Allah ﷻ berfirman:

يُرَاءُونَ النَّاسَ

“Mereka bermaksud riya di hadapan manusia.” (QS. An-Nisa’: 142)

Dari Abdullah bin Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

«مَنْ أَحْسَنَ الصَّلَاةَ حَيْثُ يَرَاهُ النَّاسُ، وَأَسَاءَهَا حَيْثُ يَخْلُو، فَتِلْكَ اسْتِهَانَةٌ اسْتَهَانَ بِهَا رَبَّهُ عَزَّ وَجَلَّ»

“Barang siapa memperbagus shalatnya ketika dilihat manusia, tetapi memperburuknya ketika bersendirian, maka hal itu merupakan bentuk peremehan yang ia lakukan terhadap Rabbnya ‘Azza wa Jalla.” (HR. Abu Ya‘la)

3. MENGAKHIRKANNYA DARI WAKTUNYA

Mereka menunda-nunda pelaksanaan shalat hingga mendekati habisnya waktu tanpa adanya uzur syar’i (At-Tafsir wal-Bayan li Ahkam al-Qur’an, juz 4, hlm. 2213).

Rasulullah ﷺ bersabda ketika menjelaskan keadaan orang yang mengakhirkan shalat Ashar:

«تِلْكَ صَلَاةُ الْمُنَافِقِ، يَجْلِسُ يَرْقُبُ الشَّمْسَ حَتَّى إِذَا كَانَتْ بَيْنَ قَرْنَيِ الشَّيْطَانِ، قَامَ فَنَقَرَهَا أَرْبَعًا»

“Itulah shalatnya orang munafik; dia duduk memperhatikan matahari hingga ketika matahari berada di antara dua tanduk setan, barulah dia bangkit dan mematuknya empat rakaat.” (HR. Muslim)

4. MELAKUKANNYA DENGAN CEPAT (NAQR ASH-SHALAH)

Orang munafik mengerjakan gerakan-gerakan shalat dengan tergesa-gesa, terutama rukuk dan sujud, tanpa tuma’ninah (ketenangan) dan kekhusyukan. Gerakan tersebut diibaratkan seperti seekor burung yang mematuk makanan dengan cepat.

Rasulullah ﷺ mencela cara shalat seperti ini, yaitu melaksanakan gerakan shalat secara cepat tanpa memberikan hak setiap rukun berupa tuma’ninah (Ash-Shalah, juz 1, hlm. 122).

Dari Abdurrahman bin Syibl radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:

«نَهَى رَسُولُ اللَّهِ ﷺ عَنْ نَقْرَةِ الْغُرَابِ، وَافْتِرَاشِ السَّبُعِ، وَأَنْ يُوَطِّنَ الرَّجُلُ الْمَكَانَ فِي الْمَسْجِدِ كَمَا يُوَطِّنُ الْبَعِيرُ»

“Rasulullah ﷺ melarang mematuk dalam shalat seperti patukan burung gagak, menghamparkan kedua lengan saat sujud seperti binatang buas, dan seseorang menetapkan tempat tertentu di masjid seperti unta yang menderum di tempatnya.” (HR. Abu Dawud, An-Nasa’i dan Ahmad)

5. SEDIKIT MENGINGAT ALLAH DI DALAMNYA

Di dalam shalat, hati mereka lalai dan pikiran mereka dipenuhi berbagai urusan dunia. Bacaan shalat pun dilakukan secara tergesa-gesa tanpa penghayatan dan perenungan (At-Tafsir al-Wasith, juz 1, hlm. 399).

Allah ﷻ berfirman:

وَلَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا

“Dan mereka tidak mengingat Allah kecuali sedikit sekali.” (QS. An-Nisa’ : 142)

6. MENINGGALKAN SHALAT BERJAMAAH

Mereka enggan mendatangi masjid untuk melaksanakan shalat berjamaah, terutama shalat yang terasa berat bagi hawa nafsu, seperti Subuh dan Isya (Nur al-Huda wa Zhulumāt adh-Dhalal fi Dhau’ al-Kitab was-Sunnah, juz 1, hlm. 230; Limadza Nushalli, juz 9, hlm. 8).

Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata:

«وَلَقَدْ رَأَيْتُنَا وَمَا يَتَخَلَّفُ عَنْهَا إِلَّا مُنَافِقٌ مَعْلُومُ النِّفَاقِ»

“Sungguh, dahulu kami melihat bahwa tidak ada yang meninggalkan shalat berjamaah melainkan seorang munafik yang telah diketahui kemunafikannya.” (HR. Muslim)

وصلى الله على نبينا محمد والحمد لله رب العالمين

  • Ditulis oleh : Yahya Firmansyah, M.Pd. (Pengasuh MDQ)
  • Rujukan : Kitab Ash-Sholah Ibn Qoyyim

Lihat Juga

3 Keni’matan Kepada Nabi Nuh ‘alaihisssalam

بسم الله الرحمن الرحيم Tiga kenikmatan besar yang Allah karuniakan kepada Nabi Nuh ‘alaihissalam dan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *