بسم الله الرحمن الرحيم
Allah ﷻ Berfirman :
وَمَنْ أَرَادَ الْآخِرَةَ وَسَعَىٰ لَهَا سَعْيَهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَٰئِكَ كَانَ سَعْيُهُمْ مَشْكُورًا
“Dan barang siapa menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh, sedangkan dia adalah mukmin, maka mereka itulah orang-orang yang usahanya dibalas dengan baik (diterima dan disyukuri oleh Allah).” (QS. Al-Isra’: 19)
Ayat ini merupakan kaidah agung tentang diterimanya amal dan tercapainya kebahagiaan akhirat. Ayat ini datang setelah ayat ke-18 yang menjelaskan keadaan orang yang hanya menghendaki kehidupan dunia (al-‘ājilah) dan menjadikannya sebagai tujuan utama. [Tafsir al-Khazin, 3/125; Zad al-Masir, 3/16; Tafsir al-Qurtubi, 10/235]
Sebagian ulama salaf, di antaranya Muhammad bin ‘Ajlan rahimahullah, merangkum kandungan ayat ini bahwa amal yang bermanfaat membutuhkan tiga perkara: iman yang kokoh, niat yang benar dan ikhlas, serta amal yang benar sesuai tuntunan syariat. Kemudian beliau membaca ayat ini. [Tafsir al-Khazin, 3/125; Ahkam al-Qur’an lil-Jassas, 3/254; Nazm ad-Durar, 11/396]
1. Kehendak terhadap Akhirat
وَمَنْ أَرَادَ الْآخِرَةَ
“Dan barang siapa menghendaki kehidupan akhirat.”
Yang pertama adalah kehendak dan niat yang benar, yaitu menjadikan rida Allah dan keselamatan di akhirat sebagai tujuan utama amal, bukan popularitas, pujian manusia, riya, atau sekadar keuntungan duniawi. [Zad al-Masir, 3/16]
Allah ﷻ berfirman:
مَن كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الْآخِرَةِ نَزِدْ لَهُ فِي حَرْثِهِ ۖ وَمَن كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِن نَّصِيبٍ
“Barang siapa menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambahkan keuntungan itu baginya, dan barang siapa menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bagian pun di akhirat.” (QS. Asy-Syura: 20)
Rasulullah ﷺ bersabda:
«إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى»
“Sesungguhnya setiap amalan bergantung pada niatnya, dan setiap orang hanya akan mendapatkan apa yang ia niatkan.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Ibnul Jauzi menjelaskan bahwa ayat ini menunjukkan pentingnya ikhlas dalam tujuan, yaitu mengarahkan amal untuk memperoleh kebahagiaan akhirat dan keselamatan dari neraka, bukan menjadikan ambisi dunia sebagai tujuan utama. [Zad al-Masir, 3/16]
Syarat pertama: إرادة الآخرة — menghendaki akhirat dengan niat yang ikhlas.
2. Berusaha dengan Amal yang Benar
وَسَعَىٰ لَهَا سَعْيَهَا
“Dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh.”
Setelah memiliki niat yang benar, seseorang harus mewujudkannya dengan amal. Amal yang dimaksud bukan sembarang perbuatan, tetapi amal yang sesuai dengan tuntunan Allah dan Rasul-Nya. Niat yang baik tidak cukup tanpa amal yang benar. [Nazm ad-Durar, 11/396; Tafsir al-Baidhawi, 3/251]
Allah ﷻ berfirman:
فَمَن كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا
“Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah dia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah dia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya.” (QS. Al-Kahfi: 110)
Ayat ini menunjukkan bahwa harapan kepada Allah harus diwujudkan melalui amal saleh, sekaligus menjauhi kesyirikan dalam ibadah.
Rasulullah ﷺ bersabda:
«مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ»
“Barang siapa melakukan suatu amalan yang bukan berasal dari tuntunan kami, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Muslim)
Ibnu Katsir menjelaskan bahwa menempuh jalan menuju akhirat dilakukan dengan mengikuti ajaran Rasulullah ﷺ (ittiba’). [Tafsir Ibnu Katsir, 5/58]
Imam al-Baidhawi menjelaskan bahwa hal tersebut mencakup melaksanakan perintah dan meninggalkan larangan, bukan mendekatkan diri kepada Allah dengan perkara yang dibuat-buat berdasarkan hawa nafsu atau akal semata. [Tafsir al-Baidhawi, 3/251]
Ibn ‘Athiyyah menyebutkan bahwa hal tersebut mencakup ketaatan yang terus-menerus dalam kebaikan di atas jalan syariat. [Mawsu‘ah at-Tafsir al-Ma’tsur, 13/102]
Syarat kedua: السعي للآخرة بسعيها — beramal sungguh-sungguh sesuai tuntunan syariat.
3. Keimanan yang Sahih
وَهُوَ مُؤْمِنٌ
“Sedangkan dia adalah seorang mukmin.”
Syarat ketiga adalah iman. Iman merupakan fondasi amal. Amal yang baik tidak memberikan manfaat akhirat apabila tidak dibangun di atas keimanan kepada Allah. [Adhwa’ al-Bayan, 3/582; Tafsir al-Qurtubi, 10/235]
Allah ﷻ berfirman:
وَقَدِمْنَا إِلَىٰ مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَّنثُورًا
“Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu bagaikan debu yang beterbangan.” (QS. Al-Furqan:23)
Allah ﷻ juga berfirman:
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Barang siapa mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sungguh, Kami akan berikan kepadanya kehidupan yang baik dan Kami akan beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl: 97)
Syaikh Muhammad al-Amin asy-Syinqithi menjelaskan bahwa ayat ini menjadi dalil bahwa amal saleh tidak memberikan manfaat di akhirat kecuali apabila disertai keimanan kepada Allah. [Adhwa’ al-Bayan, 3/582]
Syaikh Abdurrahman as-Sa’di menggambarkan amal tanpa iman seperti ranting-ranting pohon yang telah terputus dari akarnya atau seperti bangunan yang didirikan di atas ombak air. [Al-Amtsal al-Qur’aniyyah al-Qiyasiyyah al-Madrubah lil-Iman billah, 2/543]
Syarat ketiga: الإيمان — keimanan yang sahih sebagai landasan amal.
Buah dari Terpenuhinya Ketiga Syarat
Allah ﷻ berfirman:
فَأُولَٰئِكَ كَانَ سَعْيُهُمْ مَشْكُورًا
“Maka mereka itulah orang-orang yang usahanya dibalas dengan baik (diterima dan disyukuri oleh Allah).” (QS. Al-Isra’: 19)
Kata مَشْكُورًا (masykūran) menunjukkan bahwa usaha mereka mendapatkan penerimaan dan balasan dari Allah.
Qatadah dan Imam ath-Thabari menjelaskan bahwa Allah mensyukuri amal mereka dengan menerima kebaikan-kebaikan mereka, memberikan balasan yang besar, serta melimpahkan rahmat dan ampunan-Nya. [Tafsir ath-Thabari, 14/537; Tafsir ath-Thabari, 17/409; at-Tafsir al-Ma’mun, 4/474]
Imam al-Qurtubi menjelaskan bahwa maknanya adalah مَقْبُولًا غَيْرَ مَرْدُودٍ — diterima dan tidak ditolak. [Tafsir al-Qurtubi, 10/235]
وصلى الله على نبينا محمد والحمد لله رب العالمين
Ditulis oleh : Yahya Firmansyah, M.Pd. (Pengasuh MDQ)
MDQ (MAKTABAH DAAR AL-QOLAM) Markaz Kajian Quran dan Hadits