بسم الله الرحمن الرحيم
Allah Subhana wa Ta’ala berfirman :
إِنَّا نَحْنُ نُحْيِي الْمَوْتَىٰ وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا وَآثَارَهُمْ ۚ وَكُلَّ شَيْءٍ أَحْصَيْنَاهُ فِي إِمَامٍ مُبِينٍ
“Sesungguhnya Kamilah yang menghidupkan orang-orang yang mati dan Kami (pula) yang mencatat apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka (tinggalkan). Segala sesuatu Kami kumpulkan dalam kitab induk yang nyata (Lauh Mahfuz).” (QS. Yasin: 12)
Ayat ini merupakan landasan pokok mengenai bagaimana seluruh aktivitas dan dampak perbuatan manusia dicatat dengan sangat rinci di sisi Allah.
Para mufasir menjelaskan bahwa ayat ini membagi catatan pertanggungjawaban manusia menjadi dua bagian besar:
1. مَا قَدَّمُوا (Mā Qaddamū): Catatan Amal Langsung Semasa Hidup
Bagian pertama adalah apa yang langsung diperbuat dan diselesaikan oleh manusia ketika ia masih hidup di dunia (Tafsir al-Tabari Jami al-Bayan, 20/496).
Syaikh Abdurrahman As-Sa’di menjelaskan bahwa mā qaddamū mencakup seluruh amal perbuatan baik maupun buruk yang langsung dikerjakan oleh hamba semasa hidupnya, seperti salat, puasa, sedekah, maupun maksiat yang diperbuatnya secara langsung (Tafsir al-Saadi, 1/692).
Hal senada ditegaskan oleh Mujahid bin Jabr dan Qatadah bahwa maknanya adalah amal-amal perbuatan mereka yang telah lalu (Tafsir al-Tabari , 20/496)
Dalam ayat yang lain Allah Subhanahu wa Ta’ala juga menyebutkan :
فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ
“Maka barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.” (QS. Az-Zalzalah: 7–8)
2. وَآثَارَهُمْ (Wa Ātsārahum): Catatan Jejak dan Warisan Amal
Bagian kedua mencakup segala dampak, pengaruh, dan jejak yang timbul akibat perbuatan manusia (Tafsir al-Saadi, 1/692).
Para ulama tafsir membagi makna al-ātsār ke dalam dua cabang utama yang saling melengkapi.
Pahala atau dosa dari suatu amalan yang diajarkan, dirintis, atau dicontohkan seseorang, lalu terus diamalkan oleh orang lain sepeninggalnya
Jejak Kebaikan (Atsar Hasanah): Ilmu yang diajarkan dan ditulis dalam buku, wakaf masjid, sumur air, nasihat kebaikan, atau mendidik anak yang saleh
Jejak Keburukan (Atsar Sayyi’ah): Menciptakan kemaksiatan baru, menyebarkan kesesatan, atau memelopori tradisi buruk yang kemudian ditiru oleh generasi setelahnya (Tafsir al-Saadi, 1/692)
Rasulullah ﷺ bersabda dalam hadits riwayat Jarir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu:
«مَنْ سَنَّ فِي الإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً، فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ، مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ، وَمَنْ سَنَّ فِي الإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً، كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ، مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ»
“Barangsiapa memulai jalan/keteladanan yang baik dalam Islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang yang mengamalkannya setelahnya tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Dan barangsiapa memulai kebiasaan buruk dalam Islam, maka baginya dosanya dan dosa orang yang mengamalkannya setelahnya tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun.” (HR. Muslim)
Nabi ﷺ juga menegaskan mengenai amal jariyah:
«إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ»
“Apabila manusia meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali dari tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Bukhori)
Jejak Ke Masjid
Makna lain dari al-ātsār menurut para sahabat dan tabi’in adalah jejak langkah kaki seseorang saat berjalan menuju tempat-tempat ibadah, khususnya masjid (Tafsir al-Tabari Jami al-Bayan, 20/496)
Diriwayatkan oleh Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu bahwa kaum Bani Salimah yang rumahnya jauh ingin pindah mendekati Masjid Nabawi, lalu Rasulullah ﷺ bersabda:
«يَا بَنِي سَلَمَةَ دِيَارَكُمْ تُكْتَبْ آثَارُكُمْ، دِيَارَكُمْ تُكْتَبْ آثَارُكُمْ»
“Wahai Bani Salimah, tetaplah di perkampungan kalian, niscaya langkah-langkah kalian akan dicatat (pahalanya); tetaplah di perkampungan kalian, niscaya langkah-langkah kalian akan dicatat.” (HR. Muslim)
Ibnu Jarir Ath-Thabari dan Ibnu Katsir menjelaskan bahwa kedua makna ini saling melengkapi dan benar: Allah mencatat amal yang dikerjakan langsung (mā qaddamū), mencatat bekas langkah fisik menuju ketaatan atau kemaksiatan, serta mencatat amal jariah dan jejak pengaruh keteladanan yang ditinggalkan manusia bagi orang-orang setelahnya (ātsārahum)(Tafsir al-Tabari Jami al-Bayan, 20/496)
Kesimpulan dan Hikmah
- Setiap manusia bertanggung jawab atas amalan pribadinya selama hidup.
- Manusia dituntut berhati-hati dalam berucap dan bersikap, karena jika ia mempelopori suatu keburukan, dosanya akan terus mengalir selama keburukan itu ditiru (ātsārahum).
- Menjadi pelopor kebaikan, menyebarkan ilmu yang bermanfaat, dan mendidik generasi penerus merupakan aset paling berharga agar pahala terus mengalir meskipun raga telah berkalang tanah.
وصلى الله على نبينا محمد والحمد لله رب العالمين
Ditulis oleh : Yahya Firmansyah, M.Pd. (Pengasuh MDQ)
MDQ (MAKTABAH DAAR AL-QOLAM) Markaz Kajian Quran dan Hadits