بسم الله الرحمن الرحيم
Allah Ta’ala Berfirman :
رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِنَا أُمَّةً مُسْلِمَةً لَكَ وَأَرِنَا مَنَاسِكَنَا وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيم
Artinya: “Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang berserah diri kepada-Mu, dan (jadikanlah) dari keturunan kami umat yang berserah diri kepada-Mu, dan tunjukkanlah kepada kami tata cara ibadah kami, serta terimalah tobat kami. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Penerima Tobat, Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah: 128)
Doa ini dipanjatkan oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail saat membangun fondasi Baitullah
Para ulama tafsir menjelaskan bahwa penyebutan kata مُسْلِمَيْنِ لَكَ (dua orang yang berserah diri hanya kepada-Mu) mengandung permohonan keteguhan (tsabat), peningkatan derajat keikhlasan, serta ketundukan total lahir dan batin (Tafsir al-Quran al-Karim wa Irabuhu wa Bayanuhu 1/315)
Dua sifat utama seorang Muslim yang hakiki dari ayat ini dapat dijabarkan sebagai berikut:
1. Memurnikan Kepercayaan (Akidah) Hanya kepada Allah
Sifat pertama berkaitan dengan dimensi batin dan akidah, yaitu pemurnian tauhid di dalam hati:
- Mengesakan Allah dalam Ibadah dan Permohonan. Hati seorang Muslim sepenuhnya meyakini bahwa hanya Allah yang berhak disembah (uluhiyyah) dan hanya kepada-Nya tempat memohon pertolongan, perlindungan, serta sandaran hidup. Imam Ibnu Jarir ath-Thabari menjelaskan makna ayat ini: “Jadikanlah kami berdua orang yang berserah diri pada perintah-Mu, tunduk pada ketaatan kepada-Mu, tanpa mempersekutukan Engkau dengan seorang pun dalam ketaatan dan ibadah” (Tafsir Ibn Katsir 1/641)
- Kesadaran Pengawasan Ilahi (Muraqabah). Muslim sejati menyadari bahwa dirinya sepenuhnya berada di bawah kekuasaan dan takdir Allah semata. Keyakinan ini melahirkan ketenangan karena tidak menggantungkan harapan maupun ketakutan kepada makhluk (Tafsir Hadaiq al-Ruh wal-Rayhan 2/290)
2. Memurnikan Amal Perbuatan, Kepatuhan, dan Ketundukan Total Hanya kepada Allah
Sifat kedua berkaitan dengan dimensi amal lahiriah dan ketaatan, yaitu pengabdian murni tanpa pamrih duniawi:
- Ikhlas dalam Beramal (Ikhlasul ‘Amal). Huruf lam pada lafaz لَكَ (hanya untuk-Mu) berfungsi untuk pengkhususan (al-ikhtishash), yang menegaskan bahwa seluruh gerak, ibadah, dan kepatuhan ditujukan semata-mata mengharap rida Allah, bukan karena hawa nafsu, riya’ (ingin dipuji orang), status sosial, jabatan, ataupun keuntungan duniawi semata (Tafsir al-Maraghi 1/215)
- Ketundukan Mutlak pada Syariat (Al-Inqiyad). Hakikat Islam secara bahasa dan istilah adalah ketundukan dan kepasrahan (al-istislam wal inqiyad) terhadap ketetapan dan hukum syariat Allah. Hal ini dicontohkan secara nyata oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail ketika menerima perintah Allah untuk menyembelih dan berkorban tanpa keraguan sedikit pun (al-Taysir fi al-Tafsir 2/450)
- Konsekuensi Hilangnya Kemurnian. Apabila ketaatan dan kepercayaan dicampuri syirik atau motif selain Allah, maka gugurlah nilai penyerahan diri tersebut dan pelakunya kehilangan pertolongan serta perlindungan dari Allah.
Pelajaran Tambahan dari Ayat
- Pentingnya Memohon Ketetapan Iman (Istiqamah). Meskipun Nabi Ibrahim dan Ismail sudah beriman dan menjadi nabi, mereka tetap berdoa meminta agar dijadikan hamba yang berserah diri. Para ulama menjelaskan bahwa doa ini merupakan permohonan agar senantiasa diteguhkan dalam Islam hingga akhir hayat dan menjadi teladan bagi manusia. (al-Taysir fi al-Tafsir 2/450)
- Kepedulian terhadap Generasi Penerus. Permohonan وَمِنْ ذُرِّيَّتِنَا أُمَّةً مُسْلِمَةً لَكَ (dan dari keturunan kami umat yang berserah diri kepada-Mu) menunjukkan tanggung jawab seorang Muslim untuk senantiasa mendoakan anak cucu agar mewarisi akidah yang murni dan kepatuhan syariat secara berkesinambungan . Doa ini terwujud secara nyata dengan diutusnya Nabi Muhammad ﷺ dari keturunan Ismail. (Tafsir Ibn Katsir 1/641)
وصلى الله على نبينا محمد والحمد لله رب العالمين
Ditulis oleh : Yahya Firmansyah, M.Pd. (Pengasuh MDQ)
MDQ (MAKTABAH DAAR AL-QOLAM) Markaz Kajian Quran dan Hadits