بسم الله الرحمن الرحيم
Tiga kenikmatan besar yang Allah karuniakan kepada Nabi Nuh ‘alaihissalam dan orang-orang beriman saat peristiwa bahtera (kapal), sebagaimana diisyaratkan dalam firman Allah:
وَعَلَيْهَا وَعَلَى الْفُلْكِ تُحْمَلُونَ
“Dan di atasnya (hewan-hewan ternak) serta di atas kapal-kapal kalian diangkut.” (QS. Al-Mu’minun: 22)
Dalam tafsirnya, Syaikh Ahmad Huttaibah menjelaskan bahwa Allah-lah semata yang menganugerahkan keselamatan melalui tiga bentuk penundukan (taskhir) alam semesta ini :
1. Allah menundukkan air sehingga bahtera bisa mengapung di lautan (تسخير الماء لحمل السفينة)
Kapal Nabi Nuh adalah bahtera besar yang memuat manusia, berbagai macam bekal, serta pasangan dari seluruh spesies hewan .
Secara fisik, beban yang begitu berat seharusnya tenggelam ke dalam air. Namun, Allah menundukkan sifat zat cair dan menciptakan daya apung pada air sehingga mampu menopang bobot bahtera raksasa tersebut di tengah gelombang dahsyat setinggi gunung. Hal ini merupakan kekuasaan dan kasih sayang Allah semata. (Ahkam al-Quran lil-Jassas 1/125)
2. Allah menundukkan angin sehingga bahtera bisa berlayar (تسخير الرياح لإجراء السفينة)
Mengapungnya kapal di atas air tidak cukup tanpa adanya daya pendorong untuk melaju. Allah menundukkan hembusan angin agar dapat menggerakkan kapal melintasi hamparan air bah menuju tempat yang dituju.
Jika Allah menahan angin tersebut, kapal akan terhenti terapung tanpa arah, dan jika angin dijadikan badai yang tak terkendali, kapal bisa hancur atau terbalik; tetapi Allah mengaturnya dengan takaran yang menyelamatkan. (Ahkam al-Quran lil-Jassas 1/125)
3. Allah menundukkan daratan sehingga bahtera bisa mendarat (تسخير البر لترسو عليه هذه السفينة)
Setelah banjir surut, bahtera membutuhkan tempat berlabuh yang aman dan stabil agar para penumpangnya dapat turun dan memulai kehidupan baru dengan selamat.
Allah menundukkan daratan (yaitu puncak bukit Judi) menjadi tempat bersandar yang kokoh, serta mempersiapkan kondisi tanah dan bumi kembali layak dihuni dan diberkahi bagi kelangsungan hidup anak keturunan Nabi Nuh ‘alaihissalam. (Tafsir Ahmad Hutaiba 5/49)
Hikmah
Keseluruhan proses keselamatan bahtera tersebut—dari mulai mengapung, bergerak melaju, hingga berlabuh dengan tenang—adalah bukti nyata bahwa segala keteraturan alam berada di bawah kendali dan kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala semata. (Ahkam al-Quran lil-Jassas 1/125)
Keni’matan Hendaknya Digunakan Untuk Kebaikan
Lebih dari itu, penundukan tersebut juga merupakan kenikmatan yang Allah karuniakan kepada seluruh umat manusia, sehingga dapat dimanfaatkan sebagai sarana transportasi di lautan, baik untuk keperluan pekerjaan maupun berbagai kebutuhan lainnya.
Oleh karena itu, sudah semestinya setiap kenikmatan yang Allah berikan, dalam bentuk apa pun, dimanfaatkan untuk melakukan ketaatan kepada Allah dan berbagai kebaikan yang dapat mendatangkan kemaslahatan bagi umat manusia. Jangan sampai kenikmatan tersebut justru digunakan untuk kemaksiatan dan keburukan, seperti menjadi sarana untuk menjajah, melakukan eksploitasi demi kepentingan pribadi, atau berbagai bentuk keburukan lainnya.
وصلى الله على نبينا محمد والحمد لله رب العالمين
Ditulis oleh : Yahya Firmansyah, M.Pd. (Pengasuh MDQ)
MDQ (MAKTABAH DAAR AL-QOLAM) Markaz Kajian Quran dan Hadits