Official Website al-Ustadz Yahya Firmansyah, M.Pd.
Breaking News

Menyempitkan Juga Meluaskan

بسم الله الرحمن الرحيم

Perbanyaklah Mengingat Kematian

Rasulullah Shollallhu ‘alaihi wa sallam bersabda :

«أكثروا ذكر هادم اللذات، فإنه ما ذكر في سعة إلا ضيقها، ولا ذكر في ضيق إلا وسعه»

“Perbanyaklah mengingat pemutus/penghancur kelezatan (yaitu kematian). Karena sesungguhnya tidaklah ia diingat dalam keadaan lapang melainkan akan menyempitkannya, dan tidaklah ia diingat dalam keadaan sempit melainkan akan meluaskannya.”

Hadis ini diriwayatkan melalui beberapa jalur sahabat seperti Abu Hurairah dan Anas bin Malik (diriwayatkan oleh Ibnu Hibban, Al-Bazzar, dan Al-Baihaqi, dengan potongan awal diriwayatkan pula oleh At-Tirmidzi, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah).

Makna Hāżim al-Lażżāt (Pemutus Segala Keni’matan)

  • Lafaz hāżim (dengan huruf dzal) bermakna pemutus (al-qāthi’), sedangkan jika dibaca hādim (dengan huruf dal) bermakna penghancur atau peruntuh.
  • Yang dimaksud adalah kematian, karena kematian datang meruntuhkan kenikmatan semu dunia, memutus segala kelezatan fana, dan mengakhiri kebanggaan manusia atas harta, jabatan, maupun syahwatnya.

Makna “Tidaklah diingat dalam keadaan lapang melainkan menyempitkannya”

  • Ketika seseorang berada dalam kelapangan (kelimpahan harta, kesehatan prima, kedudukan tinggi, atau kegembiraan duniawi), ia rentan terpedaya oleh angan-angan panjang, merasa aman dari azab, dan bersikap sombong.
  • Mengingat kematian dalam situasi tersebut akan “menyempitkan” rasa ketertipuan itu—artinya meredam hawa nafsu, mengecilkan kebanggaan semu terhadap dunia, menyadarkan bahwa kenikmatan tersebut tidak kekal dan akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah, sehingga ia terdorong untuk bersikap rendah hati dan tidak melampaui batas.

Makna “Tidaklah diingat dalam keadaan sempit melainkan meluaskannya”

  • Ketika seseorang berada dalam kesempitan (kemiskinan, lilitan musibah, sakit, atau kesedihan hidup), beban hidup terasa berat dan menyesakkan dada.
  • Mengingat kematian dalam kondisi tersebut akan “melapangkan” jiwanya, karena ia sadar bahwa kesusahan dunia hanyalah sementara dan tidak abadi. Segala penderitaan dunia menjadi ringan bila dibandingkan dengan dahsyatnya peristiwa setelah kematian, sehingga timbul rasa qana’ah (merasa cukup), sabar, serta ridha terhadap ketetapan Allah.

Buah dan Pelajaran Mengingat Kematian

Menurut para ulama, memperbanyak mengingat kematian menghasilkan manfaat besar bagi seorang muslim:

  • Mempercepat taubat sehingga menyadarkan jiwa agar segera kembali kepada Allah dan tidak menunda-nunda kebaikan.
  • Memendekkan angan-angan kosong (qashr al-amal) sehingga membebaskan hati dari ketergantungan berlebihan pada dunia.
  • Menumbuhkan semangat beribadah sehingga mempersiapkan bekal terbaik untuk kehidupan abadi di akhirat.
  • Menjaga kestabilan hati sehingga mencegah rasa takabur di saat jaya dan mengikis keputusasaan di saat terpuruk.

وصلى الله على نبينا محمد والحمد لله رب العالمين

  • Ditulis oleh : Yahya Firmansyah, M.Pd. (Pengasuh MDQ)
  • Referensi : Syarah Riyadusholihin Syaikh Ahmad Hutaibah 5/43

Lihat Juga

3 Tingkatan Orang yang Mengadu

بسم الله الرحمن الرحيم Allah Azza wa Jalla Berfirman قَالَ اِنَّمَآ اَشْكُوْا بَثِّيْ وَحُزْنِيْٓ اِلَى …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *