بسم الله الرحمن الرحيم
Allah Azza wa Jalla Berfirman :
وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا
“Dan bersabarlah engkau (Muhammad) bersama orang-orang yang menyeru Tuhannya pada pagi dan petang hari dengan mengharap keridaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka karena mengharapkan perhiasan kehidupan dunia; dan janganlah engkau mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan keadaannya melewati batas.” (QS. Al-Kahfi: 28)
Penjelasan Mendalam Tiga Karakter
Ayat ini menyebutkan tiga sifat tercela yang menjadi larangan untuk ditaati, yang sekaligus menunjukkan secara implisit (melalui lawan katanya/mafhum mukhalafah) tiga sifat mulia yang wajib ada pada seorang panutan (al-Tafsir Ibn Qayyim 1/365; Tafsir as-Sa’di 1/475)
1. Ahli Dzikir vs Orang yang Lalai Hatinya
Yang Jangan Diikuti (وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَن ذِكْرِنَا): Orang yang hatinya lalai dan dipalingkan dari mengingat Allah, mentauhidkan-Nya, dan memahami petunjuk-Nya (Tafsir al-Tabari 18/8)
Hati yang lalai dari Allah berada dalam kegelapan spiritual, sehingga tidak mampu membimbing orang lain kepada jalan yang benar (Tafsir ar-Razi 21/457).
Yang Layak Diikuti: Orang yang senantiasa membasahi lisan dan menghidupkan hatinya dengan dzikir dan doa semata-mata mencari keridaan Allah (yuriduna wajhah), sebagaimana diperintahkan pada awal ayat tersebut (Tafsir ar-Razi 21/475).
2. Pengikut Wahyu vs Penurut Hawa Nafsu
Yang Jangan Diikuti (وَاتَّبَعَ هَوَاهُ): Orang yang menjadikan standar tindakannya adalah dorongan nafsu, gengsi duniawi, status sosial, dan kesenangan syahwat belaka (Tafsir al-Tabari 18/8).
Orang seperti ini mendahulukan hawa nafsunya di atas perintah syariat (Tafsir as-Sa’di 1/475).
Yang Layak Diikuti: Orang yang menjadikan wahyu (Al-Qur’an dan As-Sunnah) sebagai penentu langkah dan hukum dalam kehidupannya, serta mendahulukan keridaan Allah di atas kecenderungan pribadinya (Tafsir as-Sa’di 1/475).
3. Orang yang Tertib dan Menyelesaikan Urusan vs Orang yang Menyia-nyiakan Urusan
Yang Jangan Diikuti (وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا): Kata furuth ditafsirkan oleh para ulama tafsir seperti Mujahid bin Jabr dan Ibnu Jarir ath-Thabari sebagai kesia-siaan (dhiya’an), kebinasaan (halakan), atau sikap melampaui batas (israf/tafaruth) (Tafsir al-Tabari 18/8).
Urusan agamanya kacau, waktunya tersia-siakan tanpa faedah, dan urusan dunianya berantakan tanpa kebijaksanaan (Tafsir ar-Razi 21/475).
Yang Layak Diikuti: Orang yang teratur hidupnya, disiplin dalam menjaga agamanya (hazim fi amrihi), menuntaskan amanah dan tugas-tugasnya, serta tidak menyia-nyiakan waktunya untuk hal yang tidak bermanfaat (Tafsir as-Sa’di 1/475).
Tadzkiroh
Rasulullah ﷺ mengingatkan pentingnya bersikap selektif dalam memilih figur ikutan dan sahabat karib:
«الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ، فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ»
“Seseorang itu tergantung pada agama teman karibnya, maka hendaklah salah seorang di antara kalian memperhatikan siapa yang dia jadikan teman karib.” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi)
«مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ كَمَثَلِ صَاحِبِ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً، وَمَثَلُ جَلِيسِ السُّوءِ كَمَثَلِ صَاحِبِ الْكِيرِ إِنْ لَمْ يُصِبْكَ مِنْ سَوَادِهِ، أَصَابَكَ مِنْ دُخَانِهِ
“Perumpamaan teman duduk yang saleh seperti penjual minyak wangi: bisa jadi ia memberimu minyak wangi, engkau membelinya darinya, atau engkau mendapati aroma harum darinya. Sedangkan perumpamaan teman duduk yang buruk seperti pandai besi: jika engkau tidak terkena percikan apinya, engkau akan terkena asapnya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata perihal meneladani figur yang teruji integritasnya:
«مَنْ كَانَ مِنْكُمْ مُسْتَنًّا فَلْيَسْتَنَّ بِمَنْ قَدْ مَاتَ، فَإِنَّ الْحَيَّ لَا تُؤْمَنُ عَلَيْهِ الْفِتْنَةُ، أُولَئِكَ أَصْحَابُ مُحَمَّدٍ كَانُوا أَفْضَلَ هَذِهِ الْأُمَّةِ: أَبَرَّهَا قُلُوبًا، وَأَعْمَقَهَا عِلْمًا، وَأَقَلَّهَا تَكَلُّفًا»
“Barang siapa di antara kalian ingin mencari teladan, maka teladanilah orang yang telah wafat (para sahabat Nabi), karena orang yang masih hidup belum tentu aman dari fitnah (penyimpangan). Mereka adalah sahabat-sahabat Muhammad ﷺ, manusia terbaik dari umat ini, yang paling bersih hatinya, paling mendalam ilmunya, dan paling sedikit membebani diri dengan hal-hal yang tidak perlu.” (Mirqat al-Mafatih 1/273)
Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma memperingatkan dari bergaul dengan orang yang mengikuti hawa nafsu:
«لَا تُجَالِسْ أَهْلَ الْأَهْوَاءِ، فَإِنَّ مُجَالَسَتَهُمْ مُمْرِضَةٌ لِلْقُلُوبِ»
“Janganlah engkau duduk bersama orang-orang yang memperturutkan hawa nafsu, karena bergaul dengan mereka menimbulkan penyakit di dalam hati.” (Fath al-Allam 10/543).
Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah dalam karyanya al-Wabil ash-Shayyib menjelaskan intisari dari ayat ini: “Apabila seorang hamba ingin menjadikan seseorang sebagai panutannya, hendaklah ia melihat: Apakah orang tersebut termasuk ahli dzikir atau orang yang lalai? Apakah yang menguasai dirinya adalah hawa nafsu atau wahyu? Jika yang menguasainya adalah hawa nafsu dan ia termasuk orang yang lalai, maka perkaranya pasti sia-sia (furuth)… Oleh karena itu, seseorang wajib melihat kepada guru, panutan, dan orang yang diikutinya. Jika ia mendapatinya memiliki sifat-sifat buruk tersebut, jauhilah ia. Namun jika mendapatinya sebagai orang yang dominan berdzikir kepada Allah, mengikuti sunnah, dan urusannya terjaga dengan teguh (hazim), maka pegang teguhlah jejaknya.” (Tafsir Ibn Qoyyim 1/365).
Syaikh Abdurrahman as-Sa’di menerangkan dalam kitab tafsirnya: “Ayat ini menunjukkan bahwa orang yang pantas untuk ditaati dan dijadikan teladan (imam) bagi manusia adalah orang yang hatinya dipenuhi kecintaan kepada Allah, melimpah ruah dzikir pada lisannya, senantiasa mengejar keridaan Tuhannya dan mendahulukannya dari hawa nafsunya, sehingga waktunya terjaga, keadaannya baik, perbuatannya lurus, dan ia mengajak manusia kepada petunjuk. Orang dengan sifat inilah yang pantas diikuti dan dijadikan panutan.” (Tafsir as-Sa’di 1/475).
وصلى الله على نبينا محمد والحمد لله رب العالمين
Ditulis oleh : Yahya Firmansyah, M.Pd. (Pengasuh MDQ
MDQ (MAKTABAH DAAR AL-QOLAM) Markaz Kajian Quran dan Hadits