بسم الله الرحمن الرحيم
Ketika Maryam mendengar kabar gembira dari Jibril عليه السلام bahwa ia akan melahirkan Isa, ia terkejut, kaget, dan merasa heran. Ia adalah seorang gadis yang masih perawan dan belum menikah. Lalu dari mana anak itu akan datang kepadanya?
Allah Ta‘ala berfirman:
﴿قَالَتْ رَبِّ أَنَّى يَكُونُ لِي وَلَدٌ وَلَمْ يَمْسَسْنِي بَشَرٌ قَالَ كَذَلِكَ اللَّهُ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ إِذَا قَضَى أَمْرًا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ﴾
“Maryam berkata, ‘Ya Rabbku, bagaimana mungkin aku mempunyai anak, padahal tidak pernah ada seorang manusia pun yang menyentuhku?’ Jibril berkata, ‘Demikianlah, Allah menciptakan apa yang Dia kehendaki. Apabila Dia menetapkan sesuatu, Dia hanya berkata kepadanya, ‘Jadilah!’ Maka jadilah sesuatu itu.’” [Ali ‘Imran: 47]
Maryam mengungkapkan keheranannya kepada Jibril. Kemudian ia berpaling dari Jibril dan menghadap kepada Allah, bermunajat dan menyeru-Nya dengan panggilan, “Rabb”, yaitu: “Wahai Rabbku, wahai Allah.”
Kata “أنَّى” merupakan kata tanya yang bermakna “bagaimana”, dan menunjukkan adanya keterkejutan serta keheranan.
Adapun kata “يكون” adalah kata kerja bentuk mudhari‘. Allah berfirman:
﴿قَالَتْ رَبِّ أَنَّى يَكُونُ لِي وَلَدٌ وَلَمْ يَمْسَسْنِي بَشَرٌ﴾
Sedangkan kata “ولد” merupakan pelaku dari kata kerja “يكون” yang sempurna.
Adapun kalimat:
﴿وَلَمْ يَمْسَسْنِي بَشَرٌ﴾
berkedudukan sebagai hal, yaitu: “sedangkan keadaanku adalah tidak pernah ada seorang manusia pun yang menyentuhku.” Maksudnya, tidak ada seorang laki-laki yang pernah menggaulinya, ia bukan seorang istri, dan tidak memiliki niat untuk menikah. (Al-Munjid, hlm. 558).
Jawaban kemudian datang untuk mengembalikan Maryam kepada sebuah hakikat sederhana yang sering tersembunyi dari manusia karena mereka terlalu terbiasa dengan hubungan antara sebab dan akibat, disebabkan keterbatasan ilmu dan pengalaman mereka:
﴿قَالَ كَذَلِكَ اللَّهُ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ إِذَا قَضَى أَمْرًا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ﴾
“Demikianlah, Allah menciptakan apa yang Dia kehendaki. Apabila Dia menetapkan sesuatu, Dia hanya berkata kepadanya, ‘Jadilah!’ Maka jadilah sesuatu itu.” [Ali ‘Imran: 47]
Ketika persoalan dikembalikan kepada hakikat dasar ini, rasa heran pun hilang, kebingungan lenyap, hati menjadi tenteram. Kemudian manusia kembali bertanya kepada dirinya dengan penuh keheranan: “Mengapa engkau heran terhadap perkara yang sebenarnya jelas, dekat, dan sesuai dengan hakikat penciptaan?”
Demikianlah Al-Qur’an membangun cara pandang Islam terhadap berbagai hakikat besar dengan cara yang mudah, sederhana, dan dekat dengan fitrah. Al-Qur’an juga menjelaskan berbagai kerancuan yang dibuat rumit oleh filsafat-filsafat yang kompleks, lalu menetapkan kebenaran itu di dalam hati dan akal secara bersamaan. (Sayyid Quthb, 1/398).
Firman Allah:
﴿قَالَ كَذَلِكَ اللَّهُ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ﴾
“Demikianlah, Allah menciptakan apa yang Dia kehendaki.” [Ali ‘Imran: 47]
Maksudnya adalah: demikianlah penciptaan yang engkau saksikan, yaitu engkau memiliki seorang anak tanpa ada seorang laki-laki pun yang menyentuhmu. Hal tersebut merupakan penciptaan Allah Ta‘ala. Dia menciptakan dan mengadakan apa yang Dia kehendaki sesuai dengan kehendak-Nya.
Kalimat yang agung ini mengandung beberapa pelajaran, di antaranya:
Pertama: jenis penciptaan seperti ini, yaitu lahirnya seorang anak tanpa ayah, berada dalam kekuasaan Allah Ta‘ala. Sebab, Dia adalah Sang Pencipta dan Yang Mengadakan segala sesuatu. Sesuatu yang dianggap asing bagi manusia bukanlah sesuatu yang sulit bagi Allah. Zat yang menciptakan manusia pertama kali dan menciptakan berbagai hukum alam juga mampu mengubah hukum-hukum tersebut, karena Dialah yang menciptakan dan menetapkannya.
Kedua: penciptaan Isa merupakan perintah Allah Ta‘ala. Isa hanyalah salah satu makhluk-Nya. Allah menciptakannya sebagaimana Dia menciptakan makhluk-makhluk lainnya. Karena itu, Isa bukan Tuhan dan bukan anak Tuhan.
Ketiga: penciptaan Allah terjadi berdasarkan kehendak dan iradah-Nya. Di sini terdapat isyarat mengenai sebab Allah menciptakan Isa tanpa ayah. Makhluk-makhluk tidak muncul dari Allah sebagaimana akibat muncul dari sebabnya secara otomatis, tetapi makhluk ada karena Allah mengadakannya dan menciptakannya dengan kehendak-Nya.
Allah Ta‘ala berfirman:
﴿بَدِيعُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ أَنَّى يَكُونُ لَهُ وَلَدٌ﴾
“Dia Pencipta langit dan bumi. Bagaimana mungkin Dia mempunyai anak?” [Al-An‘am: 101]
Dalam hal ini terdapat bantahan ilmiah terhadap para penganut filsafat materialis yang mengatakan bahwa alam muncul dari “akal pertama” sebagaimana akibat muncul dari sebabnya. Kemudian Allah menunjukkan besarnya kekuasaan-Nya. (Abu Zahrah, 3/1225).
Allah Ta‘ala berfirman:
﴿إِذَا قَضَى أَمْرًا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ﴾
“Apabila Dia menetapkan sesuatu, Dia hanya berkata kepadanya, ‘Jadilah!’ Maka jadilah sesuatu itu.”
Maksudnya, apabila Allah سبحانه وتعالى menghendaki terwujudnya sesuatu, maka Dia mewujudkannya dengan perintah-Nya. Allah menggunakan kata “قضى” (menetapkan) untuk menunjukkan bahwa penciptaan sesuatu terjadi setelah Allah menetapkan keberadaannya. Ketika Allah menetapkan sesuatu untuk ada, ketetapan-Nya pasti terlaksana. Ketetapan itu diwujudkan dengan perintah-Nya, “Kun”, sehingga terjadilah sesuatu tersebut.
Apakah segala sesuatu benar-benar tercipta hanya karena kehendak Allah, ataukah ungkapan tersebut merupakan gambaran tentang betapa mudahnya penciptaan bagi Allah?
Yang tampak adalah bahwa ungkapan tersebut menjelaskan betapa mudahnya penciptaan bagi Sang Pencipta dan Pengada makhluk. Ungkapan itu merupakan gambaran tentang luasnya kekuasaan Allah عز وجل, mudahnya penciptaan bagi-Nya, dan berlakunya kehendak-Nya terhadap seluruh makhluk.
Karena itu, jawaban dalam keadaan seperti ini juga disampaikan dengan makna tersebut dalam Surah Maryam. Ketika Maryam merasa heran, Allah menjawab:
﴿قَالَ كَذَلِكَ قَالَ رَبُّكِ هُوَ عَلَيَّ هَيِّنٌ وَلِنَجْعَلَهُ آيَةً لِلنَّاسِ وَرَحْمَةً مِنَّا وَكَانَ أَمْرًا مَقْضِيًّا﴾
“Dia berkata, ‘Demikianlah.’ Rabbmu berfirman, ‘Hal itu mudah bagi-Ku. Dan agar Kami menjadikannya sebagai suatu tanda bagi manusia dan sebagai rahmat dari Kami. Dan hal itu adalah suatu perkara yang telah ditetapkan.’” [Maryam: 21]
Ungkapan yang mulia ini secara jelas menunjukkan bahwa konteks pembicaraan adalah menjelaskan mudahnya penciptaan seperti itu bagi Sang Pencipta. Hal ini juga menunjukkan bahwa Allah سبحانه وتعالى adalah Maha Berbuat apa yang Dia kehendaki dan Mahakuasa atas segala sesuatu. Semoga Rabb kami tidak membebani kami dengan kesulitan dalam urusan kami. (Abu Zahrah, 3/1226).
Demikianlah Maryam menerima kabar gembira dari Jibril عليه السلام. Ia kemudian menjadi yakin bahwa Allah akan menganugerahinya seorang anak. Yang tersisa hanyalah terlaksananya kabar gembira tersebut dan terwujudnya apa yang telah Allah janjikan kepadanya. (Al-Khalidi, 4/211).
وصلى الله على نبينا محمد والحمد لله رب العالمين
Disadur dari tulisan Dr. Muhammad Shallabi
Referensi
- Al-Munjid, Muhammad Shalih. Tafsir az-Zahrawain: Al-Baqarah dan Ali ‘Imran, Riyadh: Dar Al-‘Ubaikan, cet. 1, 1437 H/2016 M.
- Sayyid Quthb. Fi Zilalil Qur’an, Kairo: Dar Asy-Syuruq, cet. 38, 1430 H/2009 M.
- Al-Khalidi, Shalah. Al-Qashash Al-Qur’ani: ‘Ardh Waqa’i‘ wa Tahlil Ahdats, Damaskus: Dar Al-Qalam; Beirut: Ad-Dar Asy-Syamiyah, cet. 1, 1419 H/1998 M.
- Abu Zahrah, Muhammad. Zahrat At-Tafasir, Kairo: Dar Al-Fikr Al-‘Arabi, 2008 M.
MDQ (MAKTABAH DAAR AL-QOLAM) Markaz Kajian Quran dan Hadits