بسم الله الرحمن الرحيم
Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā telah menciptakan kehidupan dunia sebagai tempat ujian, bukan tujuan akhir. Dunia dengan segala gemerlapnya seringkali memikat hati manusia, hingga tanpa disadari ia menjadi pusat perhatian, harapan, dan kecintaan. Padahal, hakikat dunia hanyalah sementara, sedangkan kehidupan akhirat adalah kekal.
Di tengah kehidupan modern yang penuh dengan persaingan, ambisi, dan tuntutan materi, seringkali manusia terjebak dalam orientasi duniawi semata. Akibatnya, hati menjadi gelisah, hidup terasa melelahkan, dan ujungnya dipenuhi penyesalan. Oleh karena itu, memahami hakikat dunia dan dampak dari mencintainya secara berlebihan menjadi kebutuhan yang mendesak.
Kehidupan dunia seringkali tampak indah dan menjanjikan kebahagiaan, sehingga banyak manusia menjadikannya sebagai tujuan utama. Padahal, Allah telah mengingatkan dalam firman-Nya bahwa kecenderungan mengutamakan dunia adalah sifat yang dapat menjerumuskan. Ketika hati terlalu terpaut pada dunia, maka orientasi hidup pun bergeser dari akhirat menuju sesuatu yang fana dan penuh keterbatasan.
Kecintaan yang berlebihan terhadap dunia tidak datang tanpa konsekuensi. Ia perlahan membentuk cara berpikir, cara merasakan, dan cara seseorang menjalani hidup. Apa yang dianggap sebagai kebahagiaan justru berubah menjadi sumber tekanan batin. Hati yang seharusnya tenang dengan mengingat Allah, justru dipenuhi kegelisahan karena terus mengejar sesuatu yang tidak pernah memberikan kepuasan hakiki.
Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā berfirman :
بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا
Adapun kamu (orang-orang kafir) mengutamakan kehidupan dunia (QS. al-A’laa: 16)
Ibn Qoyyim al-Jauziyah menyebutkan setidaknya ada 3 kondisi yang akan dialami oleh para pecinta dunia, yaitu :
1. Kegelisahan yang terus menerus (هَمٌّ لازم)
Orang yang terlalu mencintai dunia akan selalu diliputi rasa khawatir: takut kehilangan harta, jabatan, atau kenikmatan. Hatinya tidak pernah tenang karena sandarannya adalah sesuatu yang fana dan tidak pasti. Semakin besar ketergantungannya pada dunia, semakin besar pula kegelisahannya.
2. Kelelahan yang tiada henti (تعب دائم)
Kecintaan pada dunia membuat seseorang terus mengejar tanpa batas. Ia bekerja, berusaha, dan berambisi tanpa pernah merasa cukup. Akibatnya, ia lelah secara fisik dan batin, karena tujuan dunia tidak memiliki titik akhir—selalu ada yang lebih untuk dikejar.
3. Penyesalan yang tak pernah berakhir (حسرة لا تنقضي)
Ketika dunia tidak tercapai sepenuhnya, ia menyesal. Ketika tercapai pun, ia tetap menyesal karena merasa kurang atau takut kehilangan. Bahkan di akhirat, penyesalan itu menjadi sempurna karena menyadari bahwa hidupnya dihabiskan untuk sesuatu yang sementara.
Seorang mukmin hendaknya menjadikan dunia sebagai sarana, bukan tujuan. Ia memanfaatkan dunia untuk beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah, bukan menjadikannya sebagai pusat orientasi hidup. Dengan demikian, ia akan merasakan ketenangan hati, keberkahan dalam usaha, dan harapan yang besar terhadap kehidupan akhirat.
Keseimbangan dalam memandang dunia adalah kunci keselamatan. Tidak meninggalkannya secara total, namun juga tidak tenggelam di dalamnya. Inilah sikap yang diajarkan oleh Islam: mengambil dunia secukupnya, dan menjadikan akhirat sebagai prioritas utama.
Semoga Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā senantiasa membimbing hati kita agar tidak tertipu oleh gemerlap dunia, serta mengaruniakan kepada kita hati yang tenang, amal yang ikhlas, dan akhir yang husnul khatimah. Aamiin.
وصلى الله على نبينا محمد والحمد لله رب العالمين
- Ditulis oleh : Yahya Firmansyah, M.Pd. (Pengasuh MDQ)
- Rujukan : Ighotsatul Lahfan
MDQ (MAKTABAH DAAR AL-QOLAM) Markaz Kajian Quran dan Hadits