Official Website al-Ustadz Yahya Firmansyah, M.Pd.
Breaking News

Ramadhan dan 10 Hari Terakhirnya

Ditulis oleh: Ali Muhammad al-Sallabi

Telah datang kepada kalian sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadan yang penuh berkah. Di dalamnya terdapat berbagai kebaikan dan pahala. Pada hari-hari itu pahala kebaikan dilipatgandakan, dosa-dosa dihapuskan, kesalahan diampuni, dan seorang hamba dapat mengganti berbagai kebaikan yang mungkin terlewat sebelumnya. Hari-hari tersebut memiliki banyak keutamaan yang terkenal serta keistimewaan yang agung.

Di antara keistimewaannya adalah bahwa Nabi ﷺ lebih bersungguh-sungguh dalam beribadah pada hari-hari tersebut dibandingkan hari-hari lainnya. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Aisha bint Abu Bakr رضي الله عنها dalam Shahih Muslim disebutkan:
“Sesungguhnya Nabi ﷺ bersungguh-sungguh dalam sepuluh hari terakhir (Ramadan) lebih dari kesungguhan beliau pada hari-hari lainnya.” (HR. Muslim no. 1175)

Karena itu Nabi ﷺ memperbanyak berbagai bentuk ibadah dan ketaatan pada hari-hari tersebut, seperti shalat, membaca Al-Qur’an, berdzikir, bersedekah, dan berbagai amal kebaikan lainnya. Sesungguhnya hari-hari tersebut merupakan kesempatan besar dalam kehidupan dan keuntungan besar bagi siapa saja yang diberi taufik oleh Allah ﷻ.

Maka tidak sepantasnya seorang mukmin yang berakal menyia-nyiakan kesempatan yang sangat berharga ini, baik untuk dirinya maupun keluarganya. Sebab hari-hari tersebut hanyalah beberapa malam yang terbatas. Bisa jadi seseorang mendapatkan salah satu hembusan rahmat dari Allah pada malam-malam tersebut sehingga menjadi sebab kebahagiaan baginya di dunia dan di akhirat.

Sungguh termasuk kerugian besar dan kehilangan yang sangat nyata apabila kita melihat banyak kaum muslimin menghabiskan waktu-waktu berharga ini dalam perkara yang tidak bermanfaat. Mereka begadang hampir sepanjang malam dalam hiburan yang sia-sia, namun ketika waktu shalat malam tiba mereka justru tertidur. Akibatnya mereka kehilangan banyak kebaikan yang mungkin tidak akan mereka jumpai lagi pada tahun berikutnya. Hal ini termasuk dari tipu daya dan makar setan yang berusaha menghalangi mereka dari jalan Allah.

Sepuluh hari terakhir Ramadan adalah waktu yang sangat mulia dan merupakan hembusan rahmat dari Allah yang penuh berkah. Karena itu seorang muslim wajib memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya dan menggunakan setiap momennya untuk melakukan berbagai ketaatan dan ibadah. Ia juga hendaknya menjauhi pertengkaran, permusuhan, dan kebencian, serta membersihkan hati dari kedengkian, kebencian, dan hasad terhadap sesama muslim. Sebab sifat-sifat buruk tersebut bisa menjadi sebab terhalangnya seseorang dari ampunan dan rahmat Allah. Siapa yang menginginkan ampunan Allah, hendaknya ia memaafkan orang lain pada hari-hari tersebut.

Seorang muslim juga hendaknya memfokuskan dirinya sepenuhnya untuk beribadah kepada Allah pada hari-hari itu serta berusaha mencari malam Lailatul Qadar, karena malam itu lebih baik daripada seribu bulan. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Aisha bint Abu Bakr رضي الله عنها disebutkan:
“Nabi ﷺ beri‘tikaf pada sepuluh hari terakhir Ramadan hingga beliau wafat. Setelah beliau wafat, para istri beliau melanjutkan i‘tikaf tersebut.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Tujuan dari i‘tikaf adalah agar seseorang dapat memfokuskan dirinya untuk bermunajat kepada Allah, berdoa kepada-Nya, melakukan muhasabah (introspeksi diri), membaca dan merenungkan Al-Qur’an, memperbanyak shalat, memikirkan urusan agamanya, serta berusaha memperbaiki kekurangan dan kesalahan dalam dirinya. Sebagian besar waktunya dihabiskan untuk hal-hal tersebut dengan harapan agar Allah memasukkannya ke dalam golongan hamba-hamba-Nya yang bertakwa dan menerima amalnya.

Para salafus shalih juga bersungguh-sungguh dalam memanfaatkan sepuluh hari terakhir Ramadan beserta malam-malamnya. Mereka sangat memperhatikan kebersihan diri, mandi dan memakai wewangian pada malam-malam yang penuh berkah tersebut. Mereka juga berusaha membangunkan keluarga mereka agar ikut melaksanakan ibadah.

Diriwayatkan dari Sufyan al-Thawri رحمه الله bahwa beliau membangunkan keluarganya untuk melaksanakan shalat malam pada sepuluh malam terakhir. Beliau berkata:
“Aku sangat menyukai apabila telah masuk sepuluh malam terakhir Ramadan seseorang melakukan shalat malam, bersungguh-sungguh dalam ibadah, dan membangunkan keluarga serta anak-anaknya untuk shalat jika mereka mampu.”

Demikian pula perhatian para ulama salaf terhadap Al-Qur’an pada malam-malam tersebut. Mereka memperbanyak membaca Al-Qur’an pada sepuluh hari terakhir Ramadan. Diriwayatkan dari Qatadah ibn Di‘amah رحمه الله bahwa beliau biasanya mengkhatamkan Al-Qur’an setiap tiga hari selama bulan Ramadan. Namun ketika memasuki sepuluh hari terakhir, beliau mengkhatamkannya setiap malam.

Sesungguhnya malam-malam yang mulia ini merupakan kesempatan besar yang seharusnya dimanfaatkan oleh seorang muslim dengan berbagai amal saleh yang dapat mendekatkannya kepada Allah. Hendaknya ia menyibukkan dirinya dengan rukuk dan sujud, berdiri di hadapan Allah Yang Maha Hidup lagi Maha Mengatur, serta membantu dan meringankan kesulitan orang-orang miskin dan yang membutuhkan.

Wahai seorang muslim, ketahuilah bahwa jiwa manusia jika tidak disibukkan dengan ketaatan, maka ia akan menyeretmu kepada kemaksiatan dan mengikuti hawa nafsu yang dapat menjerumuskanmu kepada sesuatu yang dimurkai oleh Allah. Karena itu berhati-hatilah agar Allah tidak melihatmu berada di tempat yang dilarang-Nya, dan agar Dia tidak kehilanganmu di tempat yang Dia perintahkan untukmu berada.

Rujukan (referensi) :

  1. Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, Majālis Syahr Ramaḍān (مجالس شهر رمضان), tahqiq: Asyraf bin ‘Abd al-Maqṣūd, penerbit Maktabah Ushul as-Salaf, cetakan pertama tahun 1996, halaman 237–247.
  2. Faleh al-Saghir, Waqafāt ma‘a aṣ-Ṣā’imīn (وقفات مع الصائمين), penerbit Dar al-‘Ashimah, cetakan pertama tahun 1997, halaman 128.
  3. Khalid Hanafi, artikel Al-‘Asyr al-Awākhir (العشر الأواخر), diakses pada 12 April 2023 dari Al Jazeera Media Network.
  4. Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, Majālis Syahr Ramaḍān (مجالس شهر رمضان), tahqiq: Asyraf bin ‘Abd al-Maqṣūd, Maktabah Ushul as-Salaf, cetakan pertama tahun 1996, halaman 237–247.
  5. Muhammad Willali, artikel Al-‘Asyr al-Awākhir min Ramaḍān wa Layālī aṣ-Ṣāliḥīn (العشر الأواخر من رمضان وليالي الصالحين), dipublikasikan 10 November 2009, diakses pada 15 Februari 2020.

Lihat Juga

5 Kandugan Do’a Lailatul Qadr

Doa yang dianjurkan pada malam Lailatul Qadr adalah: اللهم إنك عفو تحب العفو فاعف عني …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *