Official Website al-Ustadz Yahya Firmansyah, M.Pd.
Breaking News

Khabar Penting dari Amr bin ‘Ash ra

Hadits No. 711

وعن ابنِ شُماسَةَ قالَ: حَضَرْنَا عَمْرَو بنَ العاصِ رضي اللَّهُ عنه، وَهُوَ في سِيَاقَةِ المَوْتِ فَبَكى طَويلاً، وَحَوَّلَ وَجْهَهُ إِلى الجدَارِ، فَجَعَلَ ابْنُهُ يَقُولُ: يَا أَبَتَاهُ، أَمَا بَشَّرَكَ رَسُولُ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم بكَذَا؟ أَما بشَّرَكَ رَسُولُ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم بكَذَا؟

فَأَقْبلَ بوَجْههِ فَقَالَ: إِنَّ أَفْضَلَ مَا نُعِدُّ شَهَادَةُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللَّه، وأَنَّ مُحمَّداً رسُول اللَّه إِنِّي قَدْ كُنْتُ عَلى أَطبْاقٍ ثَلاثٍ: لَقَدْ رَأَيْتُني وَمَا أَحَدٌ أَشَدَّ بُغْضاً لرَسُولِ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم مِنِّي، وَلا أَحبَّ إِليَّ مِنْ أَنْ أَكُونَ قَدِ استمْكنْت مِنْهُ فقَتلْتهُ، فَلَوْ مُتُّ عَلى تِلْكَ الحالِ لَكُنْتُ مِنْ أَهْلِ النَّار

فَلَمَّا جَعَلَ اللَّهُ الإِسْلامَ في قَلْبي أَتيْتُ النَّبِيَّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم فَقُلْتُ: ابْسُطْ يمينَكَ فَلأُبَايعْكَ، فَبَسَطَ يمِينَهُ فَقَبَضْتُ يَدِي، فَقَالَ: “مالك يَا عَمْرُو؟ “قلتُ: أَرَدْتُ أَنْ أَشْتَرطَ قالَ:“تَشْتَرطُ بماذَا؟ “قُلْتُ أَنْ يُغْفَرَ لِي، قَالَ: أَمَا عَلمْتَ أَنَّ الإِسْلام يَهْدِمُ مَا كَانَ قَبلَهُ، وَأَن الهجرَةَ تَهدمُ مَا كَانَ قبلَها، وأَنَّ الحَجَّ يَهدِمُ مَا كانَ قبلَهُ؟ “وَمَا كَانَ أَحَدٌ أَحَبَّ إِليَّ مِنْ رَسُولِ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم، وَلا أَجَلّ في عَيني مِنْه، ومَا كُنتُ أُطِيقُ أَن أَملأَ عَيني مِنه إِجلالاً لَهُ، ولو سُئِلتُ أَن أَصِفَهُ مَا أَطَقتُ، لأَنِّي لَمْ أَكن أَملأ عَيني مِنه ولو مُتُّ عَلَى تِلكَ الحَال لَرَجَوتُ أَن أَكُونَ مِنْ أَهْلِ الجَنَّةِ، ثُمَّ وُلِّينَا أَشيَاءَ مَا أَدري مَا حَالي فِيهَا؟ فَإِذا أَنا مُتُّ فلا تصحَبنِّي نَائِحَةٌ وَلاَ نَارٌ، فَإذا دَفَنتموني، فشُنُّوا عليَّ التُّرَابَ شَنًّا، ثُمَّ أَقِيمُوا حولَ قَبري قَدْرَ مَا تُنَحَرُ جَزورٌ، وَيقْسَمُ لحْمُهَا، حَتَّى أَسْتَأْنِس بكُمْ، وأنظُرَ مَا أُراجِعُ بِهِ رسُلَ رَبّي. رواه مسلم.

Dari Ibnu Syumāsah, ia berkata:

Kami menghadiri (menjenguk) ‘Amr bin al-‘Ash radhiyallāhu ‘anhu ketika ia sedang dalam sakaratul maut. Ia menangis lama dan memalingkan wajahnya ke dinding. Lalu anaknya berkata:
“Wahai ayahku, bukankah Rasulullah ﷺ telah memberimu kabar gembira tentang ini dan itu? Bukankah Rasulullah ﷺ telah memberimu kabar gembira tentang ini dan itu?”

Kemudian ia menghadap (membalikkan) wajahnya seraya berkata:
“Sesungguhnya sebaik-baik bekal yang kita persiapkan adalah persaksian bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Sungguh, aku dahulu berada dalam tiga keadaan:

Aku pernah berada pada suatu masa di mana tidak ada seorang pun yang lebih aku benci daripada Rasulullah ﷺ, dan tidak ada yang lebih aku sukai selain dapat menguasainya lalu membunuhnya. Seandainya aku mati dalam keadaan itu, niscaya aku termasuk penghuni neraka.

Kemudian ketika Allah memasukkan Islam ke dalam hatiku, aku mendatangi Nabi ﷺ dan berkata: ‘Bentangkanlah tangan kananmu agar aku berbaiat kepadamu.’ Maka beliau membentangkan tangan kanannya, tetapi aku justru menarik tanganku. Beliau bertanya: ‘Ada apa denganmu, wahai ‘Amr?’ Aku menjawab: ‘Aku ingin mengajukan syarat.’ Beliau bertanya: ‘Syarat apa?’ Aku berkata: ‘Agar aku diampuni.’
Beliau bersabda: ‘Tidakkah engkau mengetahui bahwa Islam menghapus dosa-dosa sebelumnya, hijrah menghapus dosa-dosa sebelumnya, dan haji menghapus dosa-dosa sebelumnya?’

Setelah itu, tidak ada seorang pun yang lebih aku cintai daripada Rasulullah ﷺ, dan tidak ada yang lebih agung di mataku daripada beliau. Aku pun tidak sanggup menatap beliau dengan penuh (lama) karena pengagunganku kepada beliau. Seandainya aku diminta untuk menggambarkan beliau, aku tidak akan mampu, karena aku tidak pernah menatap beliau dengan penuh pandangan. Jika aku meninggal dalam keadaan itu, aku berharap termasuk penghuni surga.

Kemudian kami memegang berbagai urusan (jabatan), dan aku tidak tahu bagaimana keadaanku dalam hal itu. Maka jika aku meninggal, janganlah diiringi oleh perempuan yang meratap dan jangan pula dengan api. Apabila kalian telah menguburkanku, maka taburkanlah tanah ke atasku dengan sempurna, lalu berdirilah di sekitar kuburku sejenak kira-kira selama waktu menyembelih seekor unta dan membagikan dagingnya, agar aku merasa tenang dengan keberadaan kalian dan agar aku dapat memikirkan apa yang akan aku jawab kepada para utusan Rabbku.” (HR. Muslim)

Pengesahan Hadits

Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim (no. 121).

Kosa Kata Hadits

  • سِيَاقَةُ الْمَوْتِ: Pada saat menghadapi kematian.
  • أَطْبَاقٌ ثَلاثٌ: Tiga keadaan.
  • شُنُّوا: Timbunlah dengan tanah.

Kandungan Hadits

  1. Agungnya posisi Islam, hijrah, dan haji, yang masing-masing dapat menghapuskan berbagai kemaksiatan yang dilakukan sebelumnya.

  2. Disunnahkan mengingatkan kepada orang yang sedang menghadapi kematian agar berbaik sangka kepada Allah. Juga membacakan ayat-ayat yang berisi harapan serta hadits-hadits tentang ampunan di dekatnya, dan menyampaikan janji-janji Allah bagi kaum Muslimin.
  3. Disunnahkan menyebutkan sebagian amal kebaikannya agar ia berbaik sangka kepada Allah dan meninggal dalam keadaan husnuzan kepada-Nya.
  4. Tingginya penghormatan dan pengagungan para sahabat kepada Rasulullah ﷺ. Para penuntut ilmu hendaknya meneladani hal tersebut terhadap para ulama.
  5. Dalam hadits ini terdapat ketaatan terhadap larangan Rasulullah ﷺ untuk tidak mengiringi jenazah dengan ratapan dan api.
  6. Disunnahkan menimbunkan tanah ke dalam kubur, dan tidak dianjurkan untuk duduk di atas kuburan.
  7. Diharamkan duduk di atas kuburan karena adanya larangan yang jelas dan tegas mengenai hal tersebut.
  8. Penetapan adanya fitnah kubur dan adanya pertanyaan dari dua malaikat.
  9. Termasuk sunnah adalah tinggal sejenak di kuburan setelah pemakaman, dengan mendoakan mayit dan memohonkan keteguhan untuknya.

*) Syarah Riyadusholihin Syaikh Salim al-Hilali

Lihat Juga

Nabi Musa dan Malaikat

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: أرسل ملك الموت إلى موسى …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *