Official Website al-Ustadz Yahya Firmansyah, M.Pd.
Breaking News

5 Ragam Manusia Dalam Ghibah

بسم الله الرّحمن الرّحيم

Lisan adalah nikmat yang agung sekaligus amanah yang berat. Dengan lisan, seseorang dapat meraih derajat yang tinggi di sisi Allah, namun dengan lisan pula ia bisa terjerumus ke dalam kehinaan dan azab. Di antara penyakit lisan yang paling halus namun berbahaya adalah ghibah—yang sering kali dianggap remeh, padahal ia merusak kehormatan sesama Muslim dan menggerogoti pahala kebaikan. Lebih berbahaya lagi, ghibah kerap hadir dalam bentuk yang samar, terselubung dalam nasihat, candaan, atau bahkan ungkapan keprihatinan.

Ghibah bukan hanya sekadar menyebutkan keburukan orang lain, tetapi ia memiliki banyak wajah dan bentuk yang sering kali tidak disadari. Inilah yang menjadikannya begitu berbahaya—karena seseorang bisa terjatuh ke dalamnya dalam keadaan merasa benar atau bahkan merasa sedang berbuat kebaikan. Maka, kewaspadaan terhadap penyakit ini harus senantiasa dihidupkan dalam hati setiap Muslim.

Allah ﷻ berfirman :

وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا

“Dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain”
(QS. Al-Hujurat: 12)

Ada 5 Ragam Manusia dalam Ghibah*

1. Orang yang melakukan ghibah demi menyenangkan teman-temannya dan orang-orang yang bergaul dengannya, baik ia tahu bahwa itu adalah ghibah maupun tidak.

2. Orang yang melakukan ghibah dalam bentuk kisah-kisah yang menceritakan kepribadian seseorang dengan gaya yang menarik, dibungkus dalam bentuk agama dan kebaikan.

3. Orang yang melakukan ghibah dengan mengungkapkan kekurangan seseorang di hadapan orang banyak, sambil berkata:
“Aku tidak tahu bagaimana seseorang bisa melakukan hal ini.”

4. Orang yang melakukan ghibah dalam bentuk celaan dan sindiran, sambil berkata:
“Ya Allah, semoga Allah mengampuninya, sungguh dia telah berbuat keliru.”

5. Orang yang menampakkan ghibah dalam bentuk amarah, kemarahan, dan kebencian. Mereka berbicara dengan alasan “kemarahan terhadap orang yang melakukan hal-hal yang melampaui batas.”

Seorang hamba yang memahami hakikat ini akan berusaha menundukkan lisannya, memperbanyak muhasabah, dan lebih sibuk memperbaiki aib dirinya daripada membuka aib orang lain. Ia menyadari bahwa keselamatan di akhirat tidak terletak pada banyaknya ucapan, tetapi pada terjaganya lisan dari hal yang diharamkan. Bahkan para ulama terdahulu sangat berhati-hati dalam berbicara, karena mereka memahami bahwa satu kalimat bisa menjadi sebab keselamatan atau kebinasaan.

Akhirnya, kita memohon kepada Allah ﷻ agar membersihkan hati dan lisan kita dari segala penyakit, menjadikan kita termasuk orang-orang yang menjaga kehormatan saudaranya, serta menghiasi ucapan kita dengan kebenaran dan kebaikan. Semoga Allah ﷻ menutup aib kita di dunia dan akhirat, serta menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang selamat. Aamiin.

وصلى الله على نبينا محمد والحمد لله رب العالمين

  • Ditulis oleh : Yahya Firmansyah, M.Pd. (Pengasuh MDQ)
  • Rujukan : Maj

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *