Official Website al-Ustadz Yahya Firmansyah, M.Pd.
Breaking News

Nabi ﷺ dan Para Sahabat ra Pada Awal Masa Dakwah

بسم الله الرحمن الرحيم

Renungkanlah

Nabi ﷺ  berhijrah setelah mendapatkan gangguan yang sangat berat. Para sahabat beliau—semoga Allah Ta’ala meridai mereka—juga mendapatkan berbagai gangguan.

Para sahabat kemudian berhijrah ke Habasyah. Setelah itu mereka kembali, namun mereka kembali mendapatkan gangguan, sehingga mereka melakukan hijrah yang lain. Kemudian Allah عز وجل mengizinkan Nabi ﷺ, setelah tiga belas tahun berdakwah kepada Allah عز وجل, untuk berhijrah menuju Madinah.

Beliau berhijrah menuju negeri keimanan, sebagaimana Allah berfirman:

وَالَّذِينَ تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالإِيمَانَ

“Dan orang-orang yang telah menempati kota (Madinah) dan telah beriman sebelum kedatangan mereka (Muhajirin).” (QS. Al Hasyr ayat 9)

Mereka berhijrah menuju penduduk Madinah yang menyambut Nabi ﷺ dengan sambutan yang terbaik. Mereka mengorbankan jiwa, harta, dan darah mereka untuk menolong agama Allah سبحانه وتعالى, memuliakan Kitab Allah Ta’ala, dan membela Rasulullah ﷺ.

Telah berlalu dari hijrah Nabi ﷺ seribu empat ratus dua puluh tujuh tahun—semoga shalawat dan salam Allah senantiasa tercurah kepada beliau.

Beliau berhijrah, kemudian membangun sebuah kota dan membangun manusia-manusia yang memiliki akidah yang benar dan agama yang lurus. Mereka beribadah kepada Allah dan tidak takut terhadap celaan orang yang mencela.

Beliau membuka hati mereka dengan cahaya Rabb seluruh alam سبحانه. Beliau mengajak mereka kepada Allah, memberikan pemahaman dan petunjuk kepada mereka serta mengajarkan mereka.

Beliau mendapati mereka dalam keadaan miskin, lalu Allah عز وجل memberikan kecukupan kepada mereka melalui beliau. Beliau mendapati mereka dalam keadaan tercerai-berai, lalu Allah menyatukan hati mereka melalui beliau. Beliau mendapati mereka sebagai orang-orang yang saling bermusuhan, lalu Allah memperbaiki hati mereka melalui beliau.

Beliau mendapati mereka sebagai orang-orang yang tertindas, sementara bangsa-bangsa lain berada di atas mereka, padahal bangsa-bangsa tersebut hanyalah penyembah berhala yang tidak memiliki nilai. Maka beliau mengeluarkan mereka dari penyembahan kepada sesama manusia dan penyembahan kepada benda-benda mati menuju penyembahan kepada Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa سبحانه وتعالى.

Mereka mencintai beliau ﷺ. Hati mereka dipenuhi kecintaan kepada beliau karena mereka melihat kasih sayang dan keadilan beliau.

Beliau tidak datang kepada mereka untuk mengambil harta mereka. Bahkan, melalui mereka beliau membuka berbagai negeri dan memperoleh harta rampasan sebagaimana yang Allah عز وجل kehendaki bagi beliau dan kaum Mukminin.

Kemudian beliau bersabda:

«لَيْسَ لِي مِنْ هَذِهِ إِلَّا الْخُمُسُ، وَالْخُمُسُ مَرْدُودٌ عَلَيْكُمْ»

“Aku tidak memiliki bagian dari harta ini kecuali seperlimanya, dan seperlima itu dikembalikan kepada kalian.”

Ketika beliau ﷺ wafat, beliau meninggalkan apa yang menjadi bagian beliau. Namun bagian tersebut bukan untuk ahli warisnya, melainkan sebagai sedekah bagi orang-orang yang membutuhkan.

Allah عز وجل memuji beliau dengan firman-Nya:

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُود

“Muhammad adalah utusan Allah, dan orang-orang yang bersama dengan dia bersikap keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu melihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridaan-Nya. Pada wajah mereka tampak tanda-tanda bekas sujud.”  (QS. Al Fath ayat 29)

Mereka inilah para sahabat Nabi ﷺ. Beliau mendidik mereka di atas kebaikan, keadilan, dan ihsan. Beliau datang kepada mereka membawa Al-Qur’an yang agung. Di dalamnya terdapat ayat yang mulia:

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi bantuan kepada kerabat, dan Dia melarang perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” [QS. An-Nahl: 90]

Dua orang laki-laki yang ketika itu masih kafir mendengar ayat yang agung ini. Salah seorang dari mereka kemudian masuk Islam dan menjadi baik keislamannya. Ia adalah Utsman bin Mazh’un رضي الله تعالى عنه.

Adapun yang seorang lagi, ayat tersebut membuatnya tidak berdaya, dan ia mengucapkan sebuah perkataan yang kemudian diabadikan. Namun ia tetap bertahan dalam kekafirannya ketika penduduk Makkah mencelanya karena mengikuti seorang pemuda. Orang tersebut lebih tua daripada Nabi ﷺ. Ia adalah Al-Walid bin Al-Mughirah.

Ia mendengar ayat yang agung ini:

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

Lalu ia berkata:

«وَاللَّهِ إِنَّ لَهُ لَحَلَاوَةً، وَإِنَّ عَلَيْهِ لَطَلَاوَةً، وَإِنَّ أَعْلَاهُ لَمُثْمِرٌ، وَإِنَّ أَسْفَلَهُ لَمُغْدِقٌ، وَمَا هُوَ بِقَوْلِ الْبَشَرِ»

“Demi Allah, sesungguhnya perkataan itu memiliki kemanisan, padanya terdapat keindahan. Bagian atasnya menghasilkan buah, dan bagian bawahnya sangat subur. Ini bukanlah perkataan manusia.”

Ia mengucapkan perkataan yang terus dikenang setelahnya dan terus disampaikan manusia dari generasi ke generasi. Meskipun demikian, ia tidak masuk Islam.

Sebab, Abu Jahal—semoga laknat Allah atasnya—mendatanginya dan berkata, “Apakah engkau mengikuti Muhammad karena dia akan memberimu harta?”

Mendengar itu, Al-Walid merasa tersinggung dan berkata, “Aku adalah orang Quraisy yang paling kaya, aku adalah orang yang paling banyak hartanya. Bagaimana engkau mengatakan hal itu?”

Abu Jahal terus memengaruhinya hingga akhirnya ia tetap berada dalam kekafirannya dan tidak beriman kepada Nabi ﷺ.

Al-Qur’an yang agung inilah yang dibawa oleh Nabi ﷺ sebagai cahaya dan petunjuk bagi manusia.

Allah Ta’ala berfirman:

ذَلِكَ الْكِتَابُ لا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ * الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ * وَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ وَبِالآخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ

“Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa, yaitu mereka yang beriman kepada yang gaib, melaksanakan salat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Dan mereka yang beriman kepada (Al-Qur’an) yang diturunkan kepadamu (Muhammad) dan kepada (kitab-kitab) yang telah diturunkan sebelum engkau, dan mereka yakin akan adanya akhirat.” [QS. Al-Baqarah: 2–4]

وصلى الله على نبينا محمد والحمد لله رب العالمين

  • Ditulis oleh : Yahya Firmansyah, M.Pd. (Pengasuh MDQ)
  • Referensi : Duruus Asy-Syaikh Ahmad Huthaibah (1/2)

Lihat Juga

3 Tingkatan Orang yang Mengadu

بسم الله الرحمن الرحيم Allah Azza wa Jalla Berfirman قَالَ اِنَّمَآ اَشْكُوْا بَثِّيْ وَحُزْنِيْٓ اِلَى …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *