Lafazh Hadits
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ بِالْخَيْرِ وَكَانَ أَجْوَدَ مَا يَكُونُ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ إِنَّ جِبْرِيلَ عَلَيْهِ السَّلَام كَانَ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ سَنَةٍ فِي رَمَضَانَ حَتَّى يَنْسَلِخَ فَيَعْرِضُ عَلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْقُرْآنَ فَإِذَا لَقِيَهُ جِبْرِيلُ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ بِالْخَيْرِ مِنْ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ
Dari Ibnu Abbas radliallahu ‘anhu dia berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling pemurah berbuat kebajikan, terutama di bulan Ramadhan. Karena setiap tahun Jibril selalu menemui beliau tiap-tiap malam, hingga habis bulan Ramadhan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memperdengarkan bacaan Qur’an kepadanya (dan Jibril menyimak). Apabila Jibril mendatanginya, beliau lebih giat lagi berbuat kebajikan melebihi angin yang berhembus (HR. Bukhori)
Faidah-Faidah Hadis
1. Bolehnya menggunakan perumpamaan yang kuat dalam tasybih
Sabda Nabi ﷺ “lebih dermawan daripada angin yang berhembus” menunjukkan bahwa dalam bahasa Arab dan dalam syariat boleh menggunakan perumpamaan yang sangat kuat (mubalaghah) untuk menjelaskan suatu sifat.
2. Bolehnya menyerupakan sesuatu yang maknawi dengan sesuatu yang nyata
Sifat kedermawanan (maknawi) diserupakan dengan angin yang berhembus (sesuatu yang bisa dirasakan) agar lebih mudah dipahami.
Ini adalah metode penjelasan yang sangat efektif dalam dakwah dan pengajaran.
3. Penggunaan bentuk kata perbandingan (af‘al tafdhil)
Kedermawanan Nabi ﷺ adalah hakiki, sedangkan pada angin adalah secara majazi (kiasan).
Angin disifati dermawan karena ia membawa banyak manfaat seperti hujan, kesejukan, dan kehidupan bagi makhluk.
4. Keutamaan bulan Ramadan
Bulan Ramadan memiliki keistimewaan karena:
- Al-Qur’an mulai diturunkan pada bulan ini
- Malaikat Jibril sering turun
- Terjadi banyak kebaikan dan keberkahan
5. Keutamaan waktu diperoleh dengan memperbanyak ibadah
Waktu menjadi mulia bukan semata karena waktunya, tetapi karena banyaknya ibadah yang dilakukan di dalamnya.
6. Membaca Al-Qur’an secara rutin menambah kebaikan
Hadis ini menunjukkan bahwa membaca dan mengulang Al-Qur’an secara terus-menerus akan menambah keberkahan dan kebaikan dalam kehidupan.
7. Dianjurkan memperbanyak ibadah di akhir kehidupan
Hadis ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ semakin memperbanyak ibadah ketika usia beliau semakin mendekati akhir.
8. Bolehnya saling mengulang ilmu dengan orang yang lebih alim
Rasulullah ﷺ membaca Al-Qur’an bersama Jibril, padahal Jibril sudah mengetahuinya. Hal ini menunjukkan bahwa mengulang pelajaran bersama orang alim sangat bermanfaat untuk menguatkan pemahaman dan pengingat.
9. Malam Ramadan lebih utama daripada siangnya
Karena pertemuan Nabi ﷺ dengan Jibril terjadi setiap malam Ramadan, maka ini menunjukkan adanya keutamaan malam Ramadan.
10. Tujuan utama membaca Al-Qur’an adalah memahami dan menghadirkan hati
Malam lebih membantu untuk khusyuk dan memahami Al-Qur’an, karena pada siang hari manusia sibuk dengan berbagai urusan dunia dan aktivitas lainnya.
(Fawaid dari Fathul Bari)
MDQ (MAKTABAH DAAR AL-QOLAM) Markaz Kajian Quran dan Hadits