بسم الله الرحمن الرحيم
Allah Azza wa Jalla berfirman :
وَاسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلٰوةِۗ وَاِنَّهَا لَكَبِيْرَةٌ اِلَّا عَلَى الْخٰشِعِيْنَۙ
Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Sesungguhnya (shalat) itu benar-benar berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk. (QS. al-Baqoroh ayat 45)
Khusyu’ dalam shalat itu ada tiga tingkatan:
Pertama: Seorang hamba menghadapkan dirinya kepada hatinya sendiri, yaitu dengan menjaganya dan memperbaikinya dari penyakit-penyakit syahwat, waswas, serta lintasan-lintasan pikiran yang dapat membatalkan pahala shalatnya atau menguranginya.
Kedua: Ia menghadapkan dirinya kepada Allah dengan menghadirkan muraqabah (merasa diawasi Allah) di dalam shalatnya, hingga ia beribadah kepada-Nya seakan-akan ia melihat-Nya.
Ketiga: Ia menghadapkan dirinya kepada makna-makna kalam Allah, memahami rincian maknanya serta hakikat penghambaan dalam shalat, sehingga ia dapat menunaikannya dengan haknya berupa kekhusyukan, ketenangan (thuma’ninah), dan yang lainnya.
Dengan menyempurnakan tiga tingkatan ini, berarti ia benar-benar telah menegakkan shalat dengan sebenar-benarnya. Dan perhatian (rahmat dan penerimaan) Allah kepada orang yang shalat itu sesuai dengan kadar penghadapannya tersebut.
وصلى الله على نبينا محمد والحمد لله رب العالمين
- Ditulis oleh : Yahya Firmansyah, M.Pd. (Pengasuh MDQ)
- Rujukan : asror ash-sholah, Ibn Qayyim al-Jauziyah
MDQ (MAKTABAH DAAR AL-QOLAM) Markaz Kajian Quran dan Hadits