وشَرَعَ لَهُمُ الِاعْتِكافَ الَّذِي مَقْصُودُهُ ورُوحُهُ عُكُوفُ القَلْبِ عَلى اللَّهِ تَعالى، وجَمْعِيَّتُهُ عَلَيْهِ، والخَلْوَةُ بِهِ، والِانْقِطاعُ عَنِ الِاشْتِغالِ بِالخَلْقِ، والِاشْتِغالُ بِهِ وحْدَهُ سُبْحانَهُ بِحَيْثُ يَصِيرُ ذِكْرُهُ وحُبُّهُ، والإقْبالُ عَلَيْهِ فِي مَحَلِّ هُمُومِ القَلْبِ وخَطَراتِهِ، فَيَسْتَوْلِي عَلَيْهِ بَدَلَها، ويَصِيرُ الهَمُّ كُلُّهُ بِهِ، والخَطَراتُ كُلُّها بِذِكْرِهِ، والتَّفَكُّرُ فِي تَحْصِيلِ مَراضِيهِ وما يُقَرِّبُ مِنهُ.
فَيَصِيرُ أُنْسُهُ بِاللَّهِ بَدَلًا عَنْ أُنْسِهِ بِالخَلْقِ، فَيَعُدُّهُ بِذَلِكَ لِأُنْسِهِ بِهِ يَوْمَ الوَحْشَةِ فِي القُبُورِ حِينَ لا أنِيسَ لَهُ، ولا ما يَفْرَحُ بِهِ سِواهُ، فَهَذا مَقْصُودُ الِاعْتِكافِ الأعْظَمِ.
زاد المعاد
Allah mensyariatkan bagi mereka i‘tikaf, yang tujuan dan ruhnya adalah memusatkan hati kepada Allah Ta‘ala, menghimpunkan seluruh perhatian kepada-Nya, menyendiri bersama-Nya, serta memutuskan diri dari kesibukan dengan makhluk dan hanya menyibukkan diri dengan-Nya semata, Maha Suci Dia.
Sehingga dzikir kepada-Nya, cinta kepada-Nya, dan menghadap kepada-Nya menjadi pengganti bagi segala kegelisahan dan lintasan hati. Maka Allah menguasai hati itu menggantikan selain-Nya; seluruh perhatian menjadi tertuju kepada-Nya, seluruh lintasan pikiran dipenuhi dengan dzikir kepada-Nya, dan pikiran tercurah untuk memikirkan bagaimana meraih keridaan-Nya serta perkara-perkara yang dapat mendekatkan diri kepada-Nya.
Dengan demikian, keakraban seorang hamba dengan Allah menjadi pengganti dari keakrabannya dengan makhluk. Hal itu akan mempersiapkannya untuk memperoleh keakraban dengan-Nya pada hari kesendirian di dalam kubur, ketika tidak ada teman baginya dan tidak ada sesuatu yang dapat menyenangkannya selain Dia.
Inilah tujuan terbesar dari i‘tikaf.
— Dari kitab Zād al-Ma‘ād karya Ibn Qayyim al-Jawziyyah.
MDQ (MAKTABAH DAAR AL-QOLAM) Markaz Kajian Quran dan Hadits